Trik-puncak-produksi-tinggi

Selasa, 18 April 2017

CARA MEMELIHARA AYAM DI MUSIM PENGHUJAN

PADA umumnya beternak ayam di musim hujan lebih riskan. Ini dihubungkan dengan kondisi curah hujan yang tinggi, intensitas cahaya matahari yang menurun sehingga akan menyebabkan kelembaban meningkat dan temperatur rendah, aliran udara sangat cepat dan kualitas air menurun. Kondisi ini menyebabkan jumlah dan jenis penyakit meningkat, ternak rentan terhadap penyakit, pertumbuhan lambat dan keseragaman rendah serta kegagalan vaksinasi.

    Oleh sebab itu, perlu dilakukan persiapan khusus untuk mengantisipasi musim hujan ini dimulai saat persiapan kandang, dan perubahan manajemen yang dilakukan sejak chick in.

    Pada saat persiapan kandang perhatikan hal-hal berikut:
memperbaiki atap kandang dan gudang pakan yang bocor, tirai dan lantai kandang yang berlubang. Kemudian bersihkan pemanas, regulator, selang serta tempat pakan dan minum, dan sanitasi kandang secara menyeluruh. jangan lupa juga menyiapkan kaporit dan tambahan lampu.

    Selanjutnya ketika chick in kondisikan agar brooding/indukan dalam kondisi yang ideal, antara lain: 500 ekor DOC, bentuk lingkaran, diameter 3,25m, feeder tray 10 buah, 6 bell drinker, lampu 60 watt, dan pasang termometer di setiap brooder.

    Setelah itu, terapkan manajemen berikut dengan disiplin, yaitu:

  • Pakan dan minum harus berikan segera
  • Jangan memakai box DOC  sebagai tempat pakan lebih dari 3 hari
  • Pantau kondisi sekam, agar suhunya sekitar 32 derajad C, dan ganti yang basah
  • Pantau suhu setiap 2 jam/saat kondisi tertentu
  • Nyalakan brooding saat ayam kedinginan/ayam bergerombol
  • Perpanjanglah periode brooding 

    Setelah hal tersebut di atas, ada hal yang tidak boleh dilupakan yaitu perketat biosekuriti (misal: bak celup kaki) sebagai bagian utama dalam mencegah penyakit masuk ke kandang.

Senin, 17 April 2017

CARA TEPAT MEMILIH DESINFEKTAN DAN PENGGUNAANNNYA

Ada beragam jenis dan merek desinfektan yang beradar di pasaran, sehingga peternak dituntut untuk cermat dalam memilihnya. 
Peling tidak ada 10 kriteria suatu desinfektan dikatakan ideal yaitu diantaranya:

  1. Bekerja dengan cepat untuk menginaktivasi mikroorganisme pada suhu kamar.
  2. Aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh bahan organik, pH, temperatur dan kelembaban.
  3. Tidak toksik pada hewan dan manusia.
  4. Tidak bersifat korosif.
  5. Tiadak berwarna dan meninggalkan noda.
  6. Tidak berbau atau baunya disukai.
  7. Bersifat mudah diurai.
  8. Larutan stabil.
  9. Mudah digunakan dan ekonomis.
  10. Aktivitasnya berspektrum luas.

   Yang perlu diingat, tidak ada desinfektan yang bekerja dengan baik pada permukaan yang kotor. Untuk itu, sebelum melakukan desinfeksi lakukan dulu tiga langkah penting:

1. Harus dibasuh dengan air, dengan tujuan untuk melarutkan matriks protein. Kotoran di permukaan harus dihilangkan dengan cara digosok maupun disapu dan disemprot dengan air. Penggunaan air panas lebih efektif  dibandingkan dengan air dingin.

2. Diberi sabun atau deterjen, dengan tujuan untuk melarutkan matriks lemak.

3. Semprot atau cuci dengan desinfektan.

Namun, harus diperhatikan interaksi antara desinfektan dengan deterjen. Apa bila tidak cocok, maka sebaiknya deterjen pada permukaan dibilas air sampai bersih  baru kemudian desinfektan dapat digunakan.

   Efektifitas desinfektan juga tidak selalu sesuai dengan yang tertera pada label produk.
Keampuhan desinfektan depengaruhi oleh beberapa hal, antara lain:
  • Konsentrasi desinfektan,
  • Suhu lingkungan,
  • PH,
  • Bahan organik yang ada,
  • Kesadahan air.

Konsentrasi desinfektan kerap diabaikan. Pada hal, jika konsentrasi dikurangi hingga setengahnya misalnya, waktu untuk membunuh mikroba akan meningkat. Bahan organik juga sering dilupakan. 
Bahan organik seperti darah, serum, feses, tanah, sisa pakan dan lain-lain harus dibersihkan, karena dapat menurunkan aktifitas desinfektan sebagai akibat dari reaksi kimia antara desinfektan dan bahan organik.

Minggu, 16 April 2017

JANGAN SEMBARANGAN MEMBERIKAN ANTIBIOTIK PADA AYAM


Add caption
Ada sebuah pertanyaan dari seorang peternak, " Mengapa ayam saya tidak bisa sembuh, pada hal sudah diberi obat sesuai dengan penyakit yang diderita?"

Dari pengalaman lapangan, umumnya peternak punya kebiasaan menggunakan antibiotika dengan taget bakteri yang tidak jelas. Sebagai contoh, pada kasus pengobatan terhadap bakteri gram positif, tidak perlu menggunakan antibiotik broad spectrum. Dengan demikian bakteri yang lain, yang bukan target pengobatan tidak akan terganggu, sehingga munculnya resistensi bakteri lain dapat dicegah. Di lain pihak, ketidakmampuan melakukan diagnosa secara tepat dan minimnya pengetahuan peternak tentang antibiotika mengakibatkan penggunaan antibiotika menjadi serampangan.

Perlu diingat, bila kita menggunakan antibiotika broad spectrum, populasi bakteri dalam suatu lingkungan peternakan tidak akan hilang sama sekali, dan setiap kita menggunakan antibiotika berarti menginduksi bakteri yang ada dengan antibiotika tersebut. Apalagi, populasi bakteri dalam tubuh ternak, khusunya dalam saluran pernafasan dan pencernaan sangatlah beragam, sehingga pada penggunaan antibiotika broad spectrum akan banyak sekali populasi bakteri yang akan terinduksi.

Oleh sebab itu, sangat penting untuk menggunakan antibiotika sesuai dengan bakteri yang dikontrol, sehingga tidak akan menginduksi bakteri yang lain. Disamping itu, diagnosis, dosis serta lamanya pengobatan yang tepat akan sangat membantu untuk mengurangi kejadian resistensi. 

NGOROK PADA AYAM BROILER MODERN

NGOROK pada ayam bukanlah suatu penyakit, namun merupakan suatu gejala klinis dari penyakit yang menyerang saluran pernafasan ayam. Ini bisa disebabkan oleh agen bakterial, viral, juga fisik seperti udara yang berdebu, perubahan cuaca, amonia dan lain-lain.

    Beberapa penyakit infeksius yang mempunyai manifestasi klinis gangguan pernafasan diantaranya adalah: CRD, ILT, Coryza, ND, IB, SHS, AI. Penyakit gangguan pernafasan ini sering terjadi pada ayam broiler, terutama ayam yang dipelihara di kandang postal. Kejadian dipicu oleh banyak hal, baik dari dalam tubuh ayam sendiri maupun dari faktor lingkungan. Adanya ketidakseimbangan antara kondisi ayam dan lingkungan tersebut merupakan penyebab utamanya. Dan faktor yang terlibat tidak berdiri sendiri, selalu bersama-sama.

    Ayam broiler secara genetik mempunyai kemampuan tumbuh lebih cepat dibanding ayam type lain. Pertumbuhan badan yang cepat tidak sebanding dengan perkembangan organ vital dalam ayam yaitu jantung dan paru-parunya. Sehingga kedua organ ini sangat rentan terhadap gangguan baik dari dalam maupun dari luar. Untuk menunjang pertumbuhan badan ayam, paru-paru dipaksa bekerja keras menyuplai oksigen untuk metabolisme tubuh, juga jantung dipacu untuk mengalirkan darah yang akan membawa oksigen tersebut ke seluruh tubuh.

    Oksigen merupakan komponen penting dalam metabolisme tubuh ayam. Zat ini didapat dari udara bebas lewat saluran pernafasan ayam atas. Udara masuk tubuh ayam melaluhi hidung  kemudian masuk ke trakhea dan selanjutnya menuju ke bronkhi dan bronkhioli di paru-paru. Dari sini oksigen akan dihembuskan ke dalam kantong udara yang ada di rongga tubuh ayam, dan di tubuh ayam ada 8 buah kantong udara.

    Kemudian udara akan dikeluarkan dengan jalan didorong dari kantong udara tersebut ke bronkhioli, bronkhi dan trakhea. Saluran pernafasan ayam secara alami dilengkapi dengan petahanan mekanik. Permukaanya dilapisi oleh mukosa dan terdapat silia (bulu-bulu getar) serta mukus yang berfungsi menyaring udara yang masuk. Di saluran pernafasan atas ini partikel yang besarnya lebih dari 4 mikron akan didorong keluar oleh silia dan mukus yang ada. Di saluran pernafasan atas selain mengalami penyaringan udara, juga mengalami penghangatan. Dan berikutnya di saluran pernafasan bawah terjadi lagi penyortiran partikel yang lebih kecil.

    Kandang ayam sistem postal yang memakai sekam atau serutan kayu sebagai litternya, tingkat kepadatan ayam, kelembaban dan temperatur kandang, ventilasi kandang akan mempengaruhi kualitas udara di dalam kandang. Banyaknya partikel debu di udara akan memberatkan kerja saluran pernafasan. Temperatur yang tinggi akan meningkatkan intake air minum ayam dan menyebabkan kotoran menjadi lebih encer (wet dropping). Dan di Indonesia ini kelembaban cukup tinggi, sehingga litter menjadi basah dan kadar amonia di dalam kandang menjadi tinggi.

    Amonia yang terhirup akan mengiritasi saluran pernafasan ayam, dan menyapu silia di mukosanya. Sel-sel yang ada di permukaan saluran pernafasan  menjadi rusak, sehingga mekanisme awal pertahanan tubuh menjadi terganggu. Agen penyakit baik bakteri maupun virus yang terbawa udara akan mudah sekali menempel di saluran pernafasan karena sistem pertahanan mekanik tidak berfungsi optimal. Di tempat ini agen tersebut akan berkembang biak, dan akhirnya akan menimbulkan kerusakan lebih parah.

    Demikian halnya dengan pemberian vaksin ND/IB live yang aplikasinya lewat tetes mata, hidung atau spray. Virus akan berada di sepanjang saluran pernafasan ayam dan akan merangsang kekebalan seluler di daerah tersebut. Pada kondisi normal reaksi post-vaksinasi tidak akan berat, namun karena saluran pernafasan terluka  maka reaksi yang akan terjadi akan berlebih. Dan kemudian timbulah keradangan sebagai reaksinya, ini merupakan mekanisme tubuh untuk menghancurkan material asing yang masuk ke dalam tubuh. Adanya perlukaan di daerah saluran pernafasan menyebabkan ayam ngorok dan batuk.

    Mycoplasma gallisepticum merupakan mikroorganisme yang sering terdapat di saluran pernafasan ayam. Agen ini menempel di mukosa saluran pernafasan dan merusak selnya. Adanya kuman ini akan memicu terjadinya reaksi radang dan aliran darah ke daerah tersebut menjadi meningkat. Kuman akan ikut aliran darah dan menuju ke kantong udara terlihat berkabut dan menebal.

    Jika mycoplasma berperan sendiri dan ayam dalam kondisi baik, gejala klinis tidak terlihat, dan jika adapun manifestasinya hanya ringan saja. Namun karena adanya faktor lain seperti debu yang berlebih, kadar amonia yang tinggi saluran pernafasan akan teriritasi.

    Selain itu perubahan cuaca, perlakuan ayam yang berlebih, dan adanya agen pemicu virus ND, IB baik dari lapangan ataupun virus vaksin akan meningkatkan keparahan gangguan saluran pernafasan. Adanya faktor immunosupresi seperti mikotoksin dalam pakan, vaksinasi IBD yang tidak tepat akan memperburuk keadaan. Karena adanya luka, penebalan dan peradangan di mukosa saluran pernafasan tersebut ayam menjadi ngorok dan batuk.

    Gabungan beberapa agen tersebut di atas akan menyebabkan Chronic Respiratory Disease (CRD). Ayam tampak batuk, ngorok, bersin, keluar leleran dari mata dan hidung. Pada pemeriksaan bedah bangkai trakhea terlihat memerah, kantung udara keruh, menebal dan kadang terlihat berbusa. Jika bakteri oportunis E.colli ikut campur, keadaan terlihat lebih parah, munculah Chronic Respiratory Disease Complex. Kantung udara menebal dan terdapat massa mengkeju di daerah itu, juga di daerah rongga perut. Jantung dan hati akan diselimuti oleh selaput berwarna putih kekuningan.

    Selain itu kadar oksigen yang rendah akan memacu jantung bekerja lebih keras dan sebagai hasilnya akan timbul penumpukan cairan plasma di dalam rongga perut ayam, dan terjadilah ascites. Proses pengeluaran panas tubuh ayam juga menjadi terganggu karena salah satu caranya dengan evaporasi lewat mulut. Ayam bertahan sampai masa panen, kualitas karkasnya jadi menurun, dan beberapa organ tubuhnya musti banyak yang dibuang karena tidak layak dikonsumsi.

    Vaksinasi IBD yang menggunakan strain virus vaksin yang virulen (vaksin intermediet plus/hot) bisa mengganggu sistem kekebalan ayam. Strain virus vaksin ini akan menimbulkan kerusakan bursa fabricius. Di organ inilah sel-sel yang berfungsi untuk pertahanan tubuh (sel limfosit B) diproduksi. Jika pabriknya rusak maka jumlah sel limfosit yang ada di tubuh akan berkurang dan fungsinya menjadi tidak optimal dalam sistem kekebalan tubuh. Pada akhirnya respon vaksinasi menjadi tidak optimal dan ayam menjadi lebih peka terhadap virus ND dan IBD.

Penanganan dan Pencegahan Gangguan Pernafasan Ayam

Penanganan
    Untuk menangani gangguan pernafasan ayam, perlu dicari akar permasalahanya terlebih dahulu. Pemberian antibiotik tidak akan memberikan hasil jika penyebab utamanya tidak kita tangani. Jika kondisi lingkungan jelek perlu diperbaiki disamping pemberian obat. Kualitas udara yang jelek perlu koreksi di ventilasi udaranya, sehingga udara menjadi lebih bersih. Kelembaban yang rendah (<50%) menyebabkan udara berdebu, perlu dilakukan spray air. Kelembaban yang ideal untuk hidup ayam 50 - 70%. Pemasangan fan/kipas jika memungkinkan perlu dilakukan, litter basah dan lembab perlu diganti dengan yang baru. Dan pembalikan litter secara rutin perlu dilakukan untuk mengurangi kadar amonia dalam kandang. 

    Pemberian antibiotik akan mengatasi infeksi bakteri yang ada, dan tentunya akan menekan populasi E.colli dan streptococcus dll, di tubuh ayam. Pemberian multivitamin terutama yang mengandung vitamin C dan A, serta pemberian pakan yang berkualitas baik dengan nutrisi seimbang akan membantu mempercepat kesembuhan jaringan mukosa yang rusak.

Pencegahan 
1. Penerapan manajemen pemeliharaan yang baik.
  • Pemilihan kandang yang baik (lebih bagus kandang panggung) dan berventilasi lancar.
  • Pola pemeliharaan all in all out.
  • Jika memakai kandang postal, gunakan litter yang mudah menyerap air dan jaga agar selalu kering, perlu dilakukan pembalikan secara rutin, hindari pemilihan litter yang partikelnya kecil (serbuk gergaji).
  • Pemasangan fan pada sistem kandang terbuka, akan membantu pertukaran udara di kandang.
  • Kepadatan ayam diatur tidak terlalu tinggi 8 - 10 ekor/m2 untuk kandang postal/panggung sistem terbuka, jika sistem closed house (tunnel atau coolingpad) kepadatan bisa 15 ekor/m2.
  • Temperatur kandang yang optimal 21 - 27 derajad Celsius dan kelembaban 50 - 70%.
  • Pakan yang diberikan harus segar dan mengandung nutrisi seimbang dan hindari kontaminasi mikotoksin pada pakan karena toksin ini bersifat immunosupresif.
  • Ketersediaan air minum yang bersih di kandang.

2. Penerapan manajemen kesehatan.
  • Dilakukan program biosecurity secara ketat diantaranya dengan penyemprotan desinfektan secara rutin, untuk menekan populasi organisme pathogen di kandang dan lingkungan.
  • Kontrol terhadap vektor penyakit seperti rodensia dan serangga.
  • Program vaksinasi yang tepat untuk farm yang tepat.
  • Pelaksanaan vaksinasi yang benar dan meminimalisir reaksi post-vaksinasi yang dilakukan dengan jalan pemilihan strain virus vaksin yang cocok (gunakan strain virus vaksin yang ringan/sedang untuk mengendalikan virus lemah, dan strain yang keras/virulen hanya dipakai jika tantangan di daerah tersebut tinggi), aplikasi vaksin yang benar dan tepat (spray akan lebih keras reaksi post-vaksinasinya dibanding tetes mata atau lewat air minum) dan vaksinasi dilakukan hanya pada saat ayam kondisi sehat.
  • Dilakukan monitoring vaksinasi dengan melihat titer antibodinya.
  • Pencegahan masuknya penyakit immunosupresif terutama IBD, dengan jalan pemilihan strain vaksin yang tidak merusak kekebalan ayam dan waktu aplikasi vaksin yang tepat dengan mengetahui titer maternal antibodinya terlebih dahulu.
  • Kontrol terhadap M.gallisepticum dan E.colli dengan pemberian antibiotik yang cocok dan dosis tepat terutama di awal-awal kehidupan ayam dan saat ayam mendapat stress berat.
  • Treatment air misal dengan klorin akan menekan populasi E.colli dalam air minum.
  • Pemberian multivitamin secara rutin, terutama vitamin A dan C untuk menjaga mukosa saluran pernafasan ayam.

 

Sabtu, 15 April 2017

CARA BENAR MEMELIHARA AYAM DI DAEARH TROPIS

Mengakali Lingkungan Tropis

Stress panas diketahui sebagai penyebab gangguan produksi pada ayam. Dengan kondisi iklim tropis seperti di Indonesia, para pebisnis peternakan ayam harus memperhatikan beberapa hal yang harus diperhatikan.

   Pemilihan lokasi kandang(untuk kandang terbuka), sebelum membangun sebaiknya melihat kondisi lingkungan terlebih dahulu. Karena pemilihan lokasi kandang yang tepat akan menghasilkan keuntungan di kemudian hari. Bayangkan bila anda sudah terlanjur membangun kandang di lokasi yang sangat panas, tidak ada aliran angin, kelembaban tinggi, dan mungkin banyak masalah lainya. Tentunya hanya penyesalan yang anda dapatkan. Oleh sebab itu, lokasi kandang yang dipilih hendaknya mempertimbangkan masalah seperti ini:

  • Lakukan survay lokasi kandang yang memadai (lakukan berkali-kali secara acak) dan gunakan alat yang memadahi (minimal mengetahui suhu maksimum dan minimum, kecepatan udara dan kelembaban) agar hasilnya akurat.
  • Setelah anda yakin tempat itu cocok untuk dibangun kandang, maka pertimbangan selanjutnya adalah konstruksi kandang. Posisi kandang harus dibuat memanjang dari timur ke barat, untuk mengakali panas dari sinar matahari secara langsung.
  • Selain itu, hindari kondisi sekitar kandang yang dapat menghalangi angin berhembus ke dalam kandang, misal pepohonan yang lebat di sekitar kandang.
  • Untuk mengatasi angin mati yang sewaktu-waktu dapat terjadi, atau untuk mengatasi suhu yang terlalu tinggi, perlu dipasangi kipas angin di dalam kandang.
  • Dalam operasional sehari-hari anda harus jeli terhadap perubahan suhu yang terjadi di dalam kandang. Untuk itu selayaknya anda memiliki alat untuk mengecek kondisi lingkungan seperti higroanemometer.
  • Setiap perubahan lingkungan harus diatasi dengan tepat, dengan demikian ayam akan berada dalam kondisi yang nyaman untuk berkembang dan berproduksi.

 
 

 

Jumat, 14 April 2017

CARA CERDAS MENGURANGI POPULASI LALAT DI KANDANG AYAM

SELAIN pencemaran amonia, lalat rumah (Musca Domestika L) merupakan problem bagi peternak ayam, baik broiler maupun layer. Tak jarang terjadi protes warga akibat keberadaan binatang ini. Masyarakat patut resah karena lalat rumah memang merupakan vektor penyakit, seperti poliomyelitis, cholera, anthrax, tuberculosis, entamoeba dan telur cacing (ascaris). Khabar terakhir lalat juga merupakan vektor dari penyakit Avian Influenza (AI).

Ada hubungan yang erat antara ekskreta atau feses ayam dengan populasi lalat. Feses yang kandungan nutrienya masih tinggi merupakan media bagi pertumbuhan larva-larva lalat. Serangga ini akan selalu meletakkan telurnya pada media yang tinggi nutrienya sehingga larvanya tidak mati. Lalat juga menyukai feses yang basah ketimbang yang kering.

Kotoran ayam biasanya masih mengandung protein kasar hingga 30%. Rincianya adalah 37 - 45% berupa protein murni, 28 - 55% berbentuk asam urat, 8 - 15% amonia dan 3 - 10% berupa urea. kreatin dan senyawa nitrogen yang lain. Sedangkan kandungan serat kasarnya sekitar 12% dan energi metabolismenya sebesar 1,35 kcal/gram. Perlu diketahui bahwa  nutrien pakan yang tercerna hanya sekitar 70 - 80% dari total yang dikonsumsi ayam. Selebihnya keluar bersama feses. Dan jumlah Nitrogen dan asam amino pada kotoran ayam akan meningkat, seiring dengan meningkatnya umur ayam.

Tumpahan pakan merupakan hal yang cukup sulit untuk dihindari. Dan akibat tumpahan pakan yang tercampur dengan feses ini maka kotoran ayam menjadi semakin kaya akan nutrien. Semakin banyak tumpahan pakan, semakin meningkat pula produksi larva lalat. Dalam 3 hari kotoran ayam yang dicampur dengan kotoran broiler sebesar 5 -10% dan 15% jumlah larvanya masing-masing adalah 559, 852 dan 1.541 ekor. Sementara yang tanpa dicampur pakan jumlah larvanya hanya 303 ekor. Dengan tambahan pakan 5,10 dan 15% maka kadar protein kasar dalam feses masing-masing menjadi 30,65; 31,70 dan 32,75%. Sedang feses ayam tanpa penambahan pakan maka kandungan protein kasarnya  hanya sebesar 29,6%. Hal itu menunjukkan bahwa  lalat menyukai feses dengan kandungan protein yang tinggi. Oleh karena itu penggunaan probiotik  ataupun prebiotik guna memperbaiki sistem pencernaan dan penyerapan nutrien perlu dipertimbangkan oleh peternak  meskipun cukup merepotkan dalam pencampuranya.

GUNAKAN ARANG 

Sebagai bahan penyerap kandungan air pada feses ternyata arang lebih baik dibandingkan dengan abu, kapur maupun zeolit. Selama 3 hari,  larva yang tumbuh pada feses yang ditambah serbuk arang sebanyak 5% rata-rata hanya 100,75 ekor. Hal itu dikarenakan arang memiliki daya absorbsi yang lebih tinggi, baik pada air, senyawa organik maupun anorganik serta partikel koloid tanpa menambah nilai nutrisi pada feses. Meskipun abu dapat menyerap air, namun ternyata pertumbuhan larva lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol(feses murni), soalnya abu masih mengandung unsur mineral seperti kalium, natrium, sulfur, kalsium dan fosfor.

Lalat jantan berukuran panjang 5,8 - 6,5mm dan yang betina 6,5 - 7,5mm. Lalat betina bertelur 100 - 150 butir untuk setiap kali peneluran. Selama hidupnya yang antara 30 - 60 hari lalat betina mengalami 4 - 5 kali peneluran. Telur-telur lalat akan menetas dalam waktu 24 jam. Menjadi larva dewasa dan membentuk pupa dibutuhkan waktu 3 - 5 hari dari penetasan. Pada masa ini larva akan mati jika dipindahkan ke tempat yang tidak mengandung nutrien. Selanjutnya setelah muncul dari pupa maka lalat betina dalam waktu 36 jam sudah akan melakukan perkawinan dan mulai bertelur untuk yang pertama kalinya. Lalat betina hanya kawin sekali selama hidup dan dapat menyimpan sperma dari lalat jantan untuk proses peneluran selanjutnya. Lalat berkembang baik pada kotoran dengan kelembaban 55 - 85% dengan suhu di atas 12 derajat Celsius dan di bawah 47 derajad Celsius. Jadi perkembangan lalat dapat ditekan dengan jalan memaksimalkan penyerapan ntrien pakan oleh ayam, mengurangi tumpahan pakan dan kadar air dalam feses.

Sumber: majalah PI

Kamis, 13 April 2017

PENYAKIT GUMBORO BIKIN KERUGIAN PETERNAK SEMAKIN BENGKAK

Tidak banyak penyakit pada unggas yang mempunyai ciri khusus (patognomonis) yang bisa dijadikan patokan dalam menentukan diagnosis, salah satu dari yang tidak banyak itu adalah penyakit gomboro atau Infectious Bursal Disease.
CIRI KHUSUS dari penyakit ini adalah adanya pembengkakan pada organ bursa fabricius, jika sudah terkena penyakit ini, kemungkinan besar peternak mengalami kerugian besar, karena penyakit ini mempunyai tingkat kematian yang tinggi. Sehingga kerugian bisnis yang dialami peternak semakin bengkak.
Penyakit gumboro ini disebabkan oleh virus kelompok RNA dari famili Bimaviridae. Kelompok virus famili ini memiliki asam nukleat beruntai ganda dengan dua segmen yang berbeda, serta tidak beramplop.
Terdapat dua serotype virus IBD:
  • Serotype 1 bersifat patogenik (ganas) pada unggas.
  • Serotype 2 tidak patogenik dan tidak ditemukan pada ayam dan kalkun.
 Virus IBD strain ganas telah ditemukan di Asia termasuk Indonesia. Keberadaan penyakit ini baik pada ayam pedaging maupun petelur telah menyebabkan kerugian yang sangat besar, kerugian tersebut karena IBD bersifat akut dengan angka sakit mencapai 10-90%, sedang tingkat kematian mecapai 5-50%. Jika terjadi infeksi skunder, maka tingkat kematian akan lebih tinggi.

Waspada penularan Gumboro
Virus penyebab penyakit ini bersifat sangat menular, resisten di dalam lingkungan kandang. Kandang yang pernah ditempati oleh positif gumboro, akan tetap infeksius untuk ayam lain, selama 54-122 hari setelah ayam sakit, dikeluarkan dari kandang tersebut.
Sedang sisi pakan, air minum serta kotoran yang berasal dari kandang itu, masih bersifat infeksius selama 52 hari.
Penularan penyakit IBD terjadi secara horisontal melaluhi kontak langsung antara ayam sakit dengan ayam yang sehat dalam satu kandang. Virus IBD dapat ditemukan di dalam leleran tubuh dan kotoran ayam yang terinfeksi, maka penularanya dapat terjadi secara langsung melaluhi kontak antara ayam yang sakit dengan ayam yang peka.
Disamping itu penularan juga bisa terjadi secara tidak langsung melaluhi pakan, minuman, peralatan kandang, alat transportasi atau pekerja yang tercemar virus IBD.
Penularan juga dapat terjadi melaluhi udara yang tercemar debu atau partikel yang mengandung virus gumboro.
Virus gumboro disekeresikan melaluhi feses 24-48 jam setelah ayam terinfeksi.
Virus penyakit gumboro menginfeksi ayam secara peroral (melaluhi mulut) ikut bersama pakan atau air minum yang telah tercemar virus kemudian menuju saluran pencernaan. Disaluran pencernaan virus menginfeksi makrofaq dan sel limfosit dari deudenum, jejenum dan sekum dalam waktu 4-5 jam setelah infeksi.
Setelah 5 jam virus akan mencapai hati melaluhi vena porta dan mengakibatkan viremia primer. Dalam kurun waktu kurang lebih 11 jam setelah infeksi, virus dapat ditemukan pada sel limfoid bursa, namun virus tidak ditemukan pada sel limfoid jaringan lain. Virus yang telah dilepaskan dari jaringan bursa akan menyebabkan terjadinya viremia sekunder yang ditandai dengan mulai ditemukanya virus pada beberapa jaringan lain seperti pada lien, timus dan bursa.
Lingkungan mikro pada bursa fabrisius yang mendukung berpengaruh positif bagi replikasi virus karena tersedianya sel-sel yang permisif dalam jumlah yang besar. Replikasi virus IBD dalam bursa fabrisius mengakibatkan kerusakan sel-sel calon pembentuk anti bodi. Akibatnya terjadi penekanan respon immun humorial preimer yang berat pada ayam. Pengaruh immunosupresi tersebut menyebabkan ayam lebih peka terhadap berbagai infeksi, kurang memberikan respon terhadap vaksinasi. Sifat immunosupresi ini juga telah dilaporkan oleh beberapa peneliti pada penggunaan vaksin IBD aktif. Kejadian tersebut kemungkinan disebabkan oleh karena proses atenuasi secara sempurna virus penyakit IBD pada pembuatan vaksin aktif sangat sulit dilakukan.
Infeksi yang besifat mematikan biasanya terjadi pada umur 3-6 minggu pada saat bursa fabrisius mencapai perkembangan maksimum. ayam pedaging yang berumur 4 minggu bersifat lebih peka terhadap penyakit IBD dibandingkan dengan ayam pedaging umur 3 dan 5 minggu. 
Pada anak ayam umur 2 minggu infeksi virus IBD akan bersifat subklinis.

Gejala penyakit gumboro pada ayam yang berumur 3-6 minggu diantaranya terjadi diare, berak berwarana putih seperti pasta, ayam sering mematuk dubur sendiri, dan mengantuk. Selain itu terjadi pembengkakan di bursa fabrisius yang bentuknya bisa mencapai 2-3 kali bentuk normal dan terjadi penurunan tingkat kekebalan. Jika organ bursa disayat, akan tampak pendarahan. Pada kasus kronis, justru bursa mengecil, jika disayat, dapat ditemui cairan di antara lipatan bursa.

Sedang pada kasus sangat akut, di lapangan sering terjadi perdarahan di bagian paha dan otot bagian dada. Namun perdarahan tersebut bukan ciri spesifik karena pada kasus malaria unggas juga dapat ditemukan luka mirip dengan luka pada gumboro, serta terdapat sambungan antara pangkal saluran pencernaan dengan ampela. Pembengkakan bagian ginjal merupakan gejala lain dari penyakit ini.

Beberapa penyakit yang mempunyai gejala sangat mirip dengan gumboro diantaranya : New Castle Disease, Coccidiosis, stunting syndrome, Chicken Infectious Anemia, mikotoksikosis, Infectious Bronchitis yang neprophatogenik. Penegakan diagnosa bisa dilakukan dengan pemeriksaan Phatologi  Anatomi (PA) terdapat perubahan phatologik yang terjadi pada ayam, yakni perubahan patognomonis dari penyakit ini adalah adanya perubahan pada organ bursa fabrisius. Pemeriksaan PA dilanjutkan pemeriksaan histopatologi. Diagnosa IBD dengan histopatologi berdasarkan adanya temuan lesi-lesi pada bursa fabrisius. Dapat juga dengan melakukan uji serologi seperti ELIZA (Enzyme Linked Imunosorbent Assay), AGPT ( Agar Gell Preciptation Test ), uji netralisasi. 

Pencegahan bisa dilakukan dengan cara memberikan vaksinasi gumboro dimulai dari ayam induk  dengan menggunakan vaksin hidup  yang diikuti dengan vaksin mati sebagai penguat. Vaksinasi pada ayam breeding ketika masa pertumbuhan dan dewasa bisa meningkatkan sistem kekebalan induk pada anak ayam. Di sisi lain seringkali terjadi kasus bahwa vaksin dapat mengakibatkan kerusakan pada bursa dan melemahkan sistem kekebalan ayam. Vaksinasi pada ayam petelur dan pedaging umumnya menggunakan vaksin hidup strain lemah (mild) atau sedang (intermediate).


Sumber: PI