Trik-puncak-produksi-tinggi

Rabu, 12 April 2017

BETAPA PENTINGNYA KALSIUM PADA AYAM PETELUR


Kalsium merupakan salah satu kebutuhan unggas, terutama fase produksi. Kekurangan kalsium dalam pakan menyebabkan produksi menurun dan menimbulkan beberapa penyakit.

   KETERSEDIAAN mineral penting yang dibutuhkan tubuh unggas dibagi menjadi 2(dua) kelompok yakni unsur makro dan mikro.
Unsur makro terdiri atas kalsium, fosfor, magnesium, sodium, khlor dan kalium, sedangkan unsur mikro adalah mangan, iodium, besi, tembaga, zinc, kobalt dan selenium.

   Kekurangan kalsium sangat erat hubunganya dengan proses metabolisme dan pembentukan tulang. Sementara ayam dalam periode layer, membutuhkan kalsium untuk pembentukan tulang dan kerabang telur. Selain itu, kekurangan kalsium dalam pakan dapat menyebabkan selain produksi menurun, timbulnya penyakit osteomalacia (terjadi ketidakseimbangan antara hormon paratyroid dengan hormon hypocalcemic) dan osteoporosis serta rickets atau rachitis, yakni pertumbuhan tulang terganggu, persendian kaku dan membesar, tulang kaki bengkok, lunak, rapuh dan mudah patah.

   Metabolisme kalsium merupakan salah satu proses metabolisme vital pada unggas, terutama fase produksi yang membutuhkan kalsium lebih banyak. Kalsium dan magnesium juga berperan penting dalam pembentukan darah yang dibutuhkan bersama-sama natrium dan kalium untuk denyut jantung yang normal.
Seperti halnya ternak mamalia, metabolisme kalsium pada unggas diatur melaluhi mekanisme hormon  terhadap ginjal, tulang dan saluran pencernaan(usus). 

   Dalam pakan, faktor yang dapat meningkatkan penyerapan kalsium antara lain beberapa asam amino, seperti lysin dan arginin, laktosa dan vitamin D. Bahan pakan yang banyak mengandung oksalat dan filat menyebabkan penurunan penyerapan kalsium dalam tubuh.

   Ada 2 macam hormon yang berperan dalam metabolisme kalsium dalam tubuh unggas yaitu paratyroid (PT), dihidroksikolekalsiferol (DHK) dan kalsitonin (KT). Hormon paratyroid berperan dalam penyerapan kembali kalsium dan merangsang pengeluaran fosfat dalam ginjal, Mekanisme ini sangat dibutuhkan untuk membuang kelebihan fosfat hasil pengeluaran tulang tanpa sekaligus membuang kalsium yang dibutuhkan. Peranan fosfat di sini sangat penting sebagai unsur pokok dari asam nukleat dan membran sel, serta sebagai faktor esensial pada seluruh reaksi pembentukan energi dalam sel dan komponen yang berbentuk kristal dari tulang rangka. Menurut Parfitt (1976) dan Nata Amijaya (1984), pengaruh hormon PT terhadap tulang unggas antara lain :

  1. memobilisasi kalsium dan fosfat yang dimulai 18-36 jam setelah hormon ini mengubah sel-sel bahan jaringan ikat menjadi osteoklas.
  2. Merangsang metabolisme sementara Ca dan fosfat, 6-18 jam setelah hormon ini mengubah osteoklas non aktif menjadi osteoklas aktif dan kurang dari 24 jam setelah hormon ini beraksi terjadi peningkatan produksi asam-asam organik dan enzim yang diperlukan untuk penguraian tulang seperti asam sitrat, enzim lisosim, kolagenase dan asam hialuronat.
  3. Merangsang arus kalsium dari lakuna menuju cairan tulang (bone fluid) dan akhirnya tiba di cairan ekstraseluler, dan proses ini terjadi dalam waktu 2 jam setelah rangsangan hormom PT, serta berfungsi untuk mengurangi kepadatan tulang di bagian permukaan lakuna.
  4. Memperbesar aru kalsium ke dalam osteoklas dengan cara menambah permeabilitas membran sel osteoklas

Lebih lanjut Nata Amijaya (1984) mengemukakan bahwa pengaruh hormon DHK terhadap tulang unggas, ada hubunganya dengan fungsi vitamin D, dan apabila kekurangan vitamin ini akan menimbulkan penyakit rickets pada ayam muda dan osteomalacia pada ayam dewasa.
Sedangkan hormon KT berperan menurunkan kadar Ca darah dan fosfat dengan jalan mengurangi perombakan tulang.

   Hasil penelitian menunjukkan bahwa masukan fosfor yang tinggi atau perbandingan Ca:P yang rendah akan menyebabkan demineralisasi tulang dan klasifikasi jaringan lunak, dengan penambahan fosfor dan menurunkan perbandingan Ca:P secara nyata memberikan pengaruh terhadap retensi kalsium dan kesehatan tulang.

Sumber: majalah PI   

 
   

Selasa, 11 April 2017

SUPAYA SISA KUNING TELUR CEPAT TERSERAP, PERLUKAH DOC DIPUASAKAN?

SECARA normal penyerapan sisa kuning telur pada DOC kira-kira 20-25% dari bobot badanya dan akan terserap secara sempurna dalam tempo 4-7 hari kemudian.
Bahan nutrisi yang terkandung dalam penyerapan sisa kuning telur hanya penting mempertahankan kehidupan ayam, bukan untuk pertumbuhan lanjut. Tanpa diberi pakan ayam dapat bertahan hidup sampai 3 atau 4 hari, tetapi tidak tumbuh.
Oleh karena itu, berilah pakan secepatnya setelah ayam mendapatkan air minum yang mengandung gula sebagai sumber energi awal.

Jika dalam tempo 39-45 menit setelah pemberian air minum terlihat lebih dari 30% ayam dalam suatu indukan buatan sudah aktif (melakukan pergerakan), maka pada saat itulah pakan harus sudah diberikan.
 Penyerapan serat kuning telur yang lebih baik dan cepat justru akan terjadi pada ayam yang tidak dipuasakan. Jadi tidak benar ayam harus dipuasakan untuk mempercepat penyerapan kuning telur.

Teori lama mengatakan pentingnya pemberian pecahan jagung kuning pada DOC untuk mempercepat penyerapan sisa kuning telur. Pada hal, penelitian terbaru oleh Dr. Julia Dibner (1998) dan Dr. John T.Brake (2000) dapat dibuktikan bahwa waktu start merupakan hal kunci pada gertakan awal perkembangan sistem pencernakan dan proses penyerapan sisa kuning telur.
Dari pada pecahan jagung kering , lebih baik diberikan pakan starter komplit yang jelas-jelas mempunyai  nilai gizi jauh lebih lengkap dan berimbang. 

Sekali lagi, berikan pakan secepatnya, segera setelah DOC memperoleh energi baru untuk memulai aktifitas biologisnya.

Sumber: majalah Poultry Indonesia

PENYEBAB PRODUKSI TELUR TURUN





Perihal penurunan produksi layer, sebenarnya banyak sekali penyebabnya. Saat ini banyak yang menduga penyebabnya adalah Avian Influenza tetapi agar lebih bijaksana, sebaiknya sebelum ambil kesimpulan penyebab penurunan produksi, terlebih dulu dilakukan diagnosa yang lengkap sehingga bisa diketahui faktor penyebabnya.

Mengenai rontok bulu, umumnya rontok pada awal produksi layer. Bulu ini segera diganti dengan bulu yang baru, tergantung dari ketersediaan asam amino sulfurik dalam tubuhnya.

Rontok bulu yang lebih cepat disebabkan oleh kasus kekurangan nutrisi dan keracunan. Kasus kekurangan nutrisi bisa terjadi antara lain adanya ketidakseimbangan metabolisme energi dengan asam amino. Misalnya akibat jagungnya yang mengandung mikotoksin, dedak dengan serat kasar yang terlalu tinggi, menggunakan BKK yang jelek, menggunakan tepung ikan yang tercampur dengan yang busuk, dan lain sebagainya.

Pada saat menjelang puncak produksi, umumnya ayam sulit makan. Total asupan pakan umumnya tidak masuk standard. Pada hal ayam akan menyerap nutrisi itu untuk meningkatkan berat badan, meningkatkan prosentase produksi dan meningkatkan berat telur.

Bagi ayam yang gemuk, tentu saja mempunyai persediaan yang cukup. Tapi bagi yang kurus, ayam mulai mengambil cadangan dalam tubuhnya, termasuk energi dan asam amino sulfurik (methionine dan cystein). Pada hal ayam membutuhkan asam amino sulfurik juga dibutuhkan untuk regenerasi sel-sel bulunya.

Rontok bulu lebih awal juga bisa disebabkan oleh kelebihan garam, kelebihan Zn dalam adonan pakan atau dalam air minum. Keracunan garam dan Zn ini akan merontokkan bulu.

Senin, 10 April 2017

CARA MEMPERBAIKI ANGKA KONVERSI PADA BROILER

KONVERSI PAKAN atau bahasa asingnya Feed Conversion Ratio (FCR) merupakan ukuran produktifitas ternak yang didefinisikan sebagai perbandingan antara konsumsi pakan dan bobot tubuh. 

Misalnya jika 3,6 kg pakan yang dimakan ayam menghasilkan 1,8 kg daging berarti konversi pakan yang diperoleh adalah 2,00.
Semakin rendah nilai konversi pakan, semakin efisien ternak tersebut. Ayam broiler efektif mengkonversi (mengubah) ransum menjadi daging, dengan nilai FCR berkisar antara 1,7 sampai 1,9. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi konversi pakan diantaranya adalah faktor penyakit, kualitas pakan, kualitas air, suhu kandang,ventilasi dan cara pengafkiran.

Kesehatan ternak memiliki pengaruh besar terhadap konversi pakan . Unggas yang sakit tidak akan mempunyai penampilan yang baik. Dengan demikian penggunaan vaksinasi dan obat-obatan yang tidak sesuai dosis, akan berakibat buruk terhadap bobot badan dan konversi pakan. 

Pakan yang dikonsumsi broiler juga berperan penting dalam konversi pakan. Hindari pemberian pakan berlebihan dan simpan pakan di tempat tertutup  agar terhindar dari oksidasi, jamur atau kontaminasi lain. Sisa pakan akibat konsumsi ayam yang tidak maksimal dapat menyebabkan konversi pakan meningkat. Air bersih dan segar juga sangat mempengaruhi angka FCR.
Biasanya kualitas air di peternakan akan berpengaruh terhadap produktifitas.
Air di peternakan rentan terhadap bakteri akibat terkontaminasi debu, alas kandang, pakan dan feses.
Tingginya bakteri di dalam air dapat menyebabkan rendahnya daya cerna dan daya serap pakan.


 

AYAM BROILERKU BERAK KUNING....!!!???

Cuaca panas yang menyengat di siang hari dan cuaca yang sangat dingin di malam hari merupakan salah satu penyebab stress pada ayam. stress seperti ini sering menimbulkan gangguan tersendiri pada ayam. Salah satu gangguan itu adalah berkembangnya penyakit infeksi colibacillosis atau biasa disebut dengan penyakit berak kuning.

PENYEBAB penyakit ini adalah bakteri Escherichia coli (E.Coli) yang secara normal dapat ditemukan pada usus unggas atau hewan lain. Meskipun kebanyakan dari bakteri ini tidak pathogen, tapi terdapat pula yang pathogen, serotype yang pathogen adalah O1,O2 dan O78. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa 18-29% E.Coli yang diisolasi dari unggas tidak dapat ditentukan typenya, oleh karena itu penggunaan anti bakteri E.coli dengan satu serotype saja tidaklah cukup untuk melindungi unggas dari serangan seluruh serotype E.coli.

Sesungguhnya bakteri ini tidak menghasilkan toxik(racun) serta kurang invasif. Dan penyakit ini baru timbul jika ayam dalam keadaan rentan penyakit atau ayam dalam keadaan kekebalannya menurun. Penyakit ini menyerang pada semua umur ayam, dengan gejala klinik yang tidak spesifik, tapi salah satu ciri yang dapat diamati adalah adanya berak kuning.

Keberadaan penyakit ini dapat menjadi primer atau sekunder. Sekunder jika merupakan ikutan dari penyakit lain seperti Chronic Respiratory Disease (CRD), Infectius Coryza (Snot), Infectius Laringo Trachitis (ILT), Coccidiosis, Mycoplasmosis, Infectius Bronchitis (IB), New Castle Disease (ND) dan Hemorrhagic Enteritis. Selama ini keberadaan penyakit Collibacillosis juga sering dikarenakan efek innuno supresif dari Gumboro.

Penyakit ini dapat menular langsung atau tidak langsung. Secara langsung adalah kontak dengan ayam sakit ataupun ayam yang sensitif, sedangkan yang tidak langsung yaitu melaluhi bahan-bahan yang tercemar oleh bakteri ini.Proses masuknya bakteri dalam tubuh ayam terdapat dua cara yaitu penularan melaluhi mulut dengan makan atau minum bahan yang telah terkontaminasi. Serta dapat pula melaluhi saluran pernafasan  yaitu adanya debu atau kotoran yang telah terkontaminasi bakteri yang terhirup oleh saluran pernafasan ayam.

Apabila bakteri telah masuk ke dalam tubuh ayam dalam jumlah besar maka akan menuju aliran darah.
Bakteri dalam darah akan berkembang sampai menjadi septicemia (bertahanya bakteri dalam darah) yang merupakan ciri dari kejadian infeksi E.Coli secara akut. Colibacillosis juga dapat terjadi secara sub akut dengan ciri-ciri sebagai berikut: airsacculitis (radang pada kantung udara), enteritis (radang pada usus halus), pericarditis (radang pada selaput jantung), koligranuloma, arthritis (radang persendian), panopthalmitis (radang pada mata) dan jika menyerang organ reproduksi yang dapat menyebabkan oofritis (radang pada ovarium) dan salpingitis (radang pada tuba uterina). Bakteri ini juga dapat menyerang embrio ayam yang berdampak pada kematian embrio, yolk sac dan omphalitis (radang pada umbilikus).

Faktor yang mendukung terjadinya penyakit ini adalah : sanitasi dan desinfeksinya kurang optimal, perkandangan dan peralatan yang kurang memadahi, kualitas udara yang jelek serta stress karena faktor lingkungan.

Peternak akan merasakan dampak langsung dari infeksi bakteri ini berupa adanya gangguan pertumbuhan, penurunan produksi, peningkatan ayam afkir, penurunan kualitas karkas maupun telur, penurunan daya tetas telur dan penurunan kualitas anak juga mendukung timbulnya penyakit yang lebih komplek.

Guna mengamankan peternakan ayam dari serangan E.coli perlu dilakukan tindakan pengendalian dengan cara mengatur populasi dalam kandang agar tidak terlalu padat. Perlu dilakukan pengaturan ventilasi dan temperatur kandang secara tepat. Menerapkan sistem sanitasi yang baik serta dapat pula memberikan obat yang mempunyai daya serap tinggi dalam usus yang diberikan sesuai dengan aturan pakanya.

Selama ini bakteri E.Coli telah peka terhadap beberapa antibiotik dari kelompok aminoglikosida (polipeptida, tetrasiklin, sulfonamida, trimethoprim dan quinolon) karena bakteri ini termasuk dalam kelompok bakteri gram negatif.

Tetapi berdasarkan sebuah penelitian kebanyakan bakteri E.coli yang diisolasi adalah resisten terhadap antibiotik tetracyclin, streptomycin dan obat dari preparat sulfa. Sedang penggunaan antibiotik fluoroquinolon juga masih dipertentangkan. Karena penggunaan obat ini di peternakan ayam pedaging komersial yang dipercaya akan menimbulkan resistensi pada bakteri campylobacter spp pada manusia, yang berasal dari makanan yang menimbulkan penyakit infeksi

Oleh karena itu jika dalam pengobatan menggunakan antibiotik tertentu tidak membawa ke arah penyembuhan, maka perlu dilakukan uji sensitivitas atas obat yang digunakan.


Sumber : Majalah POULTRY Indonesia  
 

Minggu, 09 April 2017

CARA MENGATASI CACING PADA AYAM PETELUR


Musim penghujan sangat erat kaitanya dengan perubahan kondisi lingkungan. Suhu udara yang lembab akan meningkatkan serangan Ascaridiasis. Untuk itu sanitasi dan desinfeksi di lokasi kandang diperlukan untuk memutus rantai penularan.

MEMASUKI musim penghujan akan menyebabkan perubahan kondisi lingkungan. Perubahan yang mencolok adalah terjadinya peningkatan kelembaban. Tingginya kelembaban akan memberi peluang timbulnya penyakit akibat infestasi cacing.

Salah satu jenis penyakit cacing yang sering menyerang ayam adalah Ascaridiasis. Penyakit yang ditimbulkan oleh cacing ini berasal dari jenis Ascaridia galli. Cacing Ascaridia galli ini berbentuk gilik dan hidap pada usus halus ayam. Cacing jantan memiliki panjang 30-80 mm dengan diameter O,5-1,2 mm, sementara yang betina memiliki panjang 60-120 mm, dengan diameter 0,9 - 1,8 mm.

Ascaridia galli memiliki siklus hidup langsung. Artinya telur dikeluarkan bersama tinja dan berkembang menjadi stadium inaktif
mengandung larva stadium kedua di atas tanah dalam waktu 8-14 hari. Selanjutnya telur infektif tertelan oleh ayam dan menetas di dalam proventrikulus atau di usus halus ayam. Meski larva telur lebih banyak berada di lumen usus, namun beberapa mampu masuk menembus dinding usus.

Larva yang berada di lumen usus akan tumbuh menjadi larva stadium ke tiga pada 6 sampai 8 hari setelah telur tertelan. Selanjutnya, larva akan menjadi stadium ke empat setelah 14 hingga 15 hari setelah telur tertelan. Dan akhirnya tumbuh menjadi dewasa pada 4 sampai 7 hari kemudian.

Keberadaan cacing Ascaridia dalam tubuh ayam akan menimbulkan kerusakan saluran usus halus. Kerusakan paling parah saat cacing berimigrasi selama stadium pertumbuhan. Pasalnya, larva migrasi terjadi pada lapisan mukosa usus halus. Imbasnya akan menyebabkan perdarahan di dinding usus (enteritis hemorragika).

Berikutnya, perdarahan akan menimbulkan pembentukan lesi. Jika pembentukan lesi semakin parah akan menyebabkan penurunan kinerja saluran usus halus. Praktis, ayam yang terserang Ascridiasis akan mengalami gangguan pertumbuhan lantaran terjadi masalah pada penyerapan nutrisi di saluran usus halus.

Pada efek skunder, serangan cacing Ascaridia menyebabkan penurunan berat badan , pada layer terjadi penurunan produksi telur hingga kekebalan tubuh ayam semakin berkurang. Jika infeksi semakin berat, usus ayam dapat tersumbat oleh banyaknya populasi cacing. Pada tahap selanjutnya, ayam akan kehilangan darah, mengalami penurunan kadar gula darah, peningkatan asam urat, atropi tymus serta terjadi peningkatan mortalitas.

Infestasi cacing Ascaridia galli juga berpengaruh pada kadar protein darah serta mempunyai efek sinergis dengan penyakit lain seperti koksidiosis dan Infectius Bronchitis (IB). Walaupun demikian tidak semua ayam mudah terserang penyakit cacing ini.

Paling tidak, ada dua hal yang dapat mempengaruhi infestasi cacing ini. Pertama adalah umur ayam. Ayam yang berumur 3 bulan atau lebih menunjukkan adanya resistensi terhadap infestasi cacing ini. Ke dua adalah status nutrisi ayam. Ayam yang diberi pakan dengan kadar vitamin A,B komplek, kalsium dan lysin yang tinggi akan menimbulkan resistensi terhadap infestasi cacing Ascaridia galli.

Tanda klinis yang tampak oleh infestasi cacing ini adalah anemia, diare, tubuh ayam menjadi lemah dan produksi telur menurun. Diagnosa penyakit ini dilakukan melalui pemeriksaan telur cacing dari kotoran ayam ataupun pemeriksaan cacing pada usus halus saat melakukan outopsi. Sehingga, saat melakukan outopsi, pada gambaran patologi anatominya akan dijumpai enteritis hemorragika pada mukosa usus. 

Untuk pengobatan dapat menggunakan obat cacing piperazine dengan dosis 300 hingga 440 mg/kg pakan. Jika medikasi melalui air minum dapat dilakukan dengan dosis 440 mg/liter air selama 24 jam. Dan perlu diketahui kelarutan piperazine sangat baik dalam air. Keunggulan lain dari piperazine adalah memiliki rentang keamanan yang luas baik waktu henti pengobatan yang singkat dan berspektrum luas. Efek pengobatan akan maksimal bila konsetrasi piperazine yang kontak langsung dengan cacing tergolong tinggi.

Jika terdapat campuran infestasi cacing jenis Heterakis sp (cacing sekum), maka perlu ditambahkan kombinasi antara piperazine (0,11%) dan fenotiazin (0,50%-0.56%) untuk sekali pengobatan. Penggunaan dosis kombinasi dilakukan karena, piperazine kurang efektif membasmi Heterakis sp.

Selain itu dapat pula diberikan vitamin A selama 5 sampai 7 hari untuk membantu kesembuhan mukosa usus yang rusak akibat infestasi cacing.

Pengendalian infestasi cacing dapat dilakukan dengan melaksanakan manajemen yang optimal yang meliputi sanitasi, desinfeksi dan pembasmian lalat, mengingat lalat dapat menjadi vektor mekanis pada infestasi cacing ini.

Selain itu dibutuhkan juga pengobatan pencegahan , yaitu dengan memberikan obat cacing pada pullet umur 5 minggu dan di ulang dengan interval 4 minggu sampai ayam mencapai umur 21 minggu.


Sumber: Majalah poultry Indonesia
 

Sabtu, 08 April 2017

CARA JITU MENGHINDARI STRESS PANAS PADA AYAM PETELUR


KUNCI UTAMA dalam mengurangi efek stress panas pada ayam petelur adalah dengan cara melakukan antisipasi sejak dini saat kapan  temperatur lingkungan mulai tinggi dan melakukan perubahan manajemen pemeliharaan dan pola pakan secara cepat dan akurat.

Untuk mengurangi stress panas ada beberapa langkah bisa diaplikasikan :

  1. Perhatikan ketersediaan air minum. Pada saat tenperatur lingkungan tinggi, konsumsi air minum akan meningkat. Kondisi normal perbandingan air minum dengan pakan adalah 2:1 pada kisaran temperatur 21 derajad Celsius. Kebutuhan ini akan meningkat drastis menjadi 8:1 pada temperatur 38 derajad Celsius.
  2. Mengalirkan air minum akan membantu mendinginkan suhu air, baik pada air minum terbuka atau nipple.
  3. Jangan melakukan kegiatan di kandang yang dapat menimbulkan stress, seperti transfer ayam, vaksinasi dan potong paruh. Bila perlu dapat melakukan perubahan jadwal kegiatan pada saat temperatur lingkungan sudah nyaman terutama pagi hari atau menjelang malam hari. Penundaan vaksin ini penting sekali karena ayam yang terkena stress panas fungsi imunnya akan berkurang.
  4. Tambahkan vitamin dan elektrolit ke dalam air minum. Gangguan keseimbangan asam basa dalam darah disebabkan karena hilangnya beberapa mineral tubuh melaluhi urine seperti: sodium, chlorine, potassium dan bicarbonat.
  5. Pemberian Potassium Chloride atau Ammonium Chloride 1,8 - 2,7 kg/ton pakan sebagai pengganti elektrolit yang hilang dan dapat memperbaiki keseimbangan asam basa dalam darah serta dapat meningkatkan konsumsi air minum.
  6. Berikan ventilasi yang baik dengan memasang kipas angin untuk memberikan efek dingin pada ayam.
  7. Jangan menggunakan nicarbazin (obat koksi) pada saat temperatur lingkungan tinggi, karena dapat memperparah stress panas.
  8. Bersihkan kotoran ayam secara rutin, karena proses dekomposisi kotoran menghasilkan panas yang dapat menaikkan temperatur sekitar kandang. Kotoran yang menumpuk seperti kerucut dapat menghambat sirkulasi udara.
  9. Perhatikan bahan atap kandang. Hindari menggunakan bahan yang mempunyai kemampuan menyerap radiasi panas paling kecil.
  10. Singkirkan dari sekitar kandang bahan-bahan yang mampu menghasilkan radiasi seperti lembaran seng dan biarkan rumput tumbuh teratur di sekitar kandang.

Semoga Bermanfaat.........