Trik-puncak-produksi-tinggi

Senin, 13 Maret 2017

KENAPA PRODUKSI TELUR AYAM KITA BISA TURUN?



Tidak semua penurunan produksi disebabkan oleh penyakit tetapi kenyataanya dapat pula disebabkan karena kesalahan pada manajemen atau nutrisi


Turunya produksi telur dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut ini:
  • Manajemen (lingkungan kandang).
  • Temperatur yang tinggi dapat menyebabkan stress(>29 derajad C) sehingga akan menurunkan tingkat konsumsi/feed intake, ukuran telur dan produksinya, sedangkan temperatur rendah (<13 derajad C) juga dapat menyebabkan produksi turun.
  • Sistem ventilasi yang buruk dalam kandang bisa mengakibatkan temperatur tinggi diikuti kadar amonia yang tinggi pula.
  • Program penyinaran yang salah, baik lamanya maupun intesitas cahayanya.
  • Prubahan yang mendadak dalam lingkungan kandang atau dalam kegiatan sehari-hari.
  • Banyaknya tikus.
  • Banyaknya ayam yang mengeram.
  • Ayam takut dengan suara atau tamu asing.

Nutrisi 

  • Suplai pakan tidak cukup karena ada masalah pada feeding system. 
  • Hilangnya zat nutrisi utama dalam pakan karena ada kesalahan di feedmill/formulasi pakan.
  • Zat gizi yang tidak cukup, yang dimaksud di sini adalah asam amino/protein, calcium, phosphor, sodium/vitamin dll. Kerusakan atau kekurangan zat gizi bisa disebabkan karena: suplemen tidak cukup, penyimpanan pakan terlalu lama, defisiensi vitamin dan mineral juga menyebabkan turunya produksi telur.
  • Perubahan secara mendadak dalam unsur pakan, komposisi atau tekstur pakan.
  • Pemberian pakan yang berlebihan dan berenergi tinggi sehingga ayam kegemukan dan liver haemorhagic syndrome adalah penyebab turunya produksi setelah puncak.
  • Konsumsi air minum yang kurang karena: tempat minum kurang, masalah pada water system, perubahan kualitas air.

Penyakit Menular  

Beberapa agen penyakit menyebabkan turunya produksi telur dengan cara menginfeksi organ-organ reproduksi secara langsung, sebagai bagian dari proses penyakit. Agen penyakit lain yang tidak menginfeksi organ reproduksi tetapi mengakibatkan stress fisiologi yang menimbulkan karena adanya penurunan konsumsi pakan dan minum. Beberapa penyakit yang menyebabkan turunya produksi telur yaitu: ND, IB, EDS, Coryza, AE, Mycoplasma dan parasit eksternal.

Keracunan 

Grup mycotoxin ( aflatoxin, trichothecene, ochratoxin dan oosporein ) merupakan faktor terbesar yang dapat menyebabkan terjadinya turunya produksi telur, karena menyebabkan turunya feed intake, berat badan. Di samping itu masih ada logam/mineral (tembaga, sodium chloride, arsenik organic, nitrat, zinc dan bikarbonat), organic compounds (insektisida, rodentisida, fungisida dan herbisida), dan bahan-bahan khemoterapetik yang menjadi racun karena meningkatkan dosis di atas level yang direkomendasikan.

Dalam banyak kasus penyebab turunya produksi telur tidak terdeteksi karena proses pemerikasaan yang tidak berkesinambungan atau tidak mengikuti pendekatan untuk mencari penyebabnya.Penyebab yang dapat diikuti dalam mencari penyebab turunya produksi telur sebagai berukut: 

  • Tentukan masalah dan lama kejadianya, dengan mengetahui %/hen/day produksi pada umur tertentu. biasanya penurunan produksi 4-5% dalam satu minggu dapat dijadikan patokan bahwa ada masalah pada ayam tersebut.
  • Penelusuran sejarah, sejarah vaksinasi dan penyakit dan kontrol terhadap hal-hal berikut yang menyertainya.
  • Perubahan bentuk, ukuran, kualitas pada telur.
  • Peningkatan angka kematian.
  • Penurunan konsumsi pakan dan minum.
  • Perubahan feed ingredients, tekstur pakan, stock pakan.
  • Penggunaan antibiotik(dosis/konsentrasinya, lama pemberian).
  • Penurunan daya tetas.

Sejarah dari manajemen kandang meliputi; listrik, peralatan kandang, perubahan lingkungan, kegiatan rutinitas atau perubahan karyawan dalam kandang tersebut. 

Sample darah/serum, serology digunakan untuk titer antibody virus atau mycoplasma yang diketahui dapat menyebabkan turunya produksi.
Pemeriksaan teliti kandang yang bermasalah, meliputi monitor alat kandang yang otomatis (timer lampu, chain feeding) apa sesuai yang dikehendaki.
Sample pakan, apabila diduga penurunan produksi karena pakan.
Monitor ayam dari flock yang bermasalah, dengan melihat adakah ayam yang lesu, bulunya kusut, jengger pucat, kebiruan atau memutih dan tingkat kematianya.
Ambil spesimen untuk pemeriksaan mikrobiologi dan histopathology, sample diambil pada saat fase penurunan yang akut dan diambil dari bangkai segar atau ayam yang dimatikan.

Dari semua hal tersebut, dapatlah kita cari solusi yang tepat guna mencegah penurunan produksi telur.
       
  

Minggu, 12 Maret 2017

CARA MENGATASI REAKSI POST-VAKSINASI PADA AYAM

,

 Proses Vaksinasi adalah dengan mamasukkan agen penyakit yang telah dilemahkan dengan tujuan untuk merangsang pembentukan daya tahan atau kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit tertentu dan aman tidak menimbulkan penyakit. Reaksi merugikan kadang kita jumpai sebagai akibat dari respon kekebalan dari tubuh ayam. Reaksi yang ditimbulkan dapat berupa reaksi lokal dan umum.

 Reaksi lokal seperti mata berair, bengkak pada daerah muka, ayam menggosokkan mata pada punggungnya, menggeleng-gelengkan kepala atau terjadinya kerusakan jaringan pada daerah bekas injeksi. Gejala umum biasanya terjadi demam dan penurunan produksi.

 Pemberian vaksin killed bacterial dapat menyebabkan kerusakan jaringan pada bekas injeksi sebagai akibat dari reaksi adjuvant. Pembengkakan pada daerah periorbital sering kita jumpai sebagai akibat pemberian killed vaksin coryza. Encephalitis dan encephalopaty sering kita jumpai sebagai akibat dari reaksi setelah pemberian vaksin ND dengan menunjukkan tanda-tanda yang khas seperti torticolis, tremor, dan paralysis. Reaksi-reaksi ini dapat terlihat pada hari ke dua sampai enam hari setelah pemberian vaksin aktif seperti ND,IB atau IBD.

 Reaksi POST-VAKSIN yang paling utama adalah munculnya penyakit gangguan pernafasan ringan dengan gejala batuk, bersin dan ngorok yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti:

  1. Reaksi vaksin yang terlalu kuat.
  2. Akibat dari pelaksanaan dan waktu yang kurang tepat, telah terjadi infeksi pada ayam yang tidak memiliki kekebalan, reaksi berjalan lambat dan terus-menerus.
  3. Tantangan virus lapangan, vaksin aktif seperti ND, IB akan menimbulkan kekebalan setelah terjadi reaksi pada sistem pernafasan. Tanpa timbulnya reaksi pernafasan tersebut kekebalan tidak akan terbentuk.

 Pada dasarnya seberapa parah reaksi pernafasan terjadi setelah pelaksanaan vaksinasi tergantung pada:
  1. Level zat kebal induk. DOC dengan kekebalan induk rendah reaksi post-vaksin akan semakin jelas, tetapi akan memberikan reaksi yang positif untuk membentuk kekebalan.
  2. Strain vaksin, semakin kuat strain vaksin yang digunakan reaksi yang ditimbulkan akan semakin kuat.
  3. Umur, pada umumnya ayam muda akan menunjukkan reaksi yang lebih kuat.
  4. Dosis vaksin, pemberian dosis yang tinggi reaksi semakin jelas terlihat.
  5. Aplikasi vaksin, vaksin lewat air minum atau tetes mata reaksi yang ditimbulkan lebih lemah dibandingkan dengan cara spray.
  6. Terjadi infeksi E. colli dan mycoplasma gallisepticum.
  7. Kelembaban udara yang terlalu rendah.
  8. Faktor immunosupresi, faktor stress akan memberi reaksi yang lebih hebat.
  9. Level immune yang rendah sebagai akibat jarak vaksin yang terlalu jauh.
  10. Pelaksanaan vaksin yang ceroboh, sehingga ada beberapa ayam yang lolos dan tidak tervaksin.
  11. Pelakasanaan vaksin aktif pada flock dengan banyak umur.
  12. Level ammonia dan debu yang tinggi.
  13. Populasi kandang yang terlalu padat.
  14. Kualitas litter yang jelek.

Untuk menekan reaksi post-vaksin serendah mungkin perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
  • Mengetahui lebih dulu level antibody sebelum pelaksanaan vaksinasi.
  • Vaksin aktif dan inaktif hendaknya diberikan secara terpisah.
  • Perlunya pemberian antibiotik bila terjadi infeksi mycoplasma.
  • Vaksin aktif memberikan reaksi post-vaksin lebih rendah.

Sabtu, 11 Maret 2017

CARA VAKSINASI AYAM YANG BENAR




Banyak hal yang menyebabkan kegagalan vaksinasi seperti tidak profesionalnya vaksinator, aplikasi yang salah, dosis kurang tepat, perlakuan terhadap vaksin dan penyimpanan vaksin.

 Yang harur diperhatikan dalam vaksinasi:

1.Penyimpanan vaksin
  •  Vaksin disimpan di refrigerator dengan suhu 2-8 derajad celsius, terhindar dari sinar matahari langsung.
  • Apabila hendak mengangkut vaksin harus dengan wadah yang memiliki daya isolasi yang baik terhadap suhu luar (misal: termos atau sterofoam box) dengan diisi batu es di dalamnya.
2. Kondisi yang harus diperhatikan 

  • Vaksin belum kadaluarsa, dosis dan waktu pemberian harus tepat.
  • Ayam yang mau divaksin dalam keadaan sehat.
  • Saat udara panas jangan melakukan vaksinasi maks  29 derajat C.
  • Tata cara dan prosedur vaksinasi harus benar.
  • Air yang digunakan harus segar pH 6.5-7.5 bebas  desinfektan dan klorin.
  • Hindari wadah yang terbuat dari logam.
  • Beri multivitamin setelah vaksinasi, untuk mengurangi stress.

3. Vaksinasi melaluhi air minum

  • Sekitar 24 jam sebelum vaksinasi, klorinisasi dan pemberian desinfektan harus dihentikan.
  • Sebelum vaksinasi ayam dipuasakan 1-2 jam, jika suhu lebih 30 derajad celsius 1 jam saja.
  • Disiapkan air, susu skim dan vaksin dalam jumlah yang tepat, air yang dibutuhkan adalah sejumlah air yang habis diminum ayam dalam waktu 1-2 jam.
  • Jumlah air yang dibutuhkan yaitu dengan rumus  JUMLAH AYAM  X  UMUR AYAM  :  1000 EKOR.
  • Susu skim dilarutkan kedalam air dengan ukuran 2 gram/liter, fungsinya sebagai pelindung vaksin dari berinteraksi dengan bahan-bahan dalam air untuk menjaga kualitas vaksin.
  • Untuk daerah panas disarankan air ditambah batu es, dan jika kualitas airnya kurang bagus ditambah dosis susu skimnya atau merebus airnya.
  • Vaksin diaduk ke dalam air yang telah disediakan dengan rata, segera tuang ke tempat minum yang bersih.
  • Botol dan tutup vaksin harus dikubur, dibakar atau direndam desinfektan.

4. Vaksinasi Tetes 

  • Penetesan ke dalam mata harus tepat dan vaksin harus terserap sempurna ke dalam kelopak mata.
  • Jangan menjaring ayam terlalu banyak untuk menghindari penumpukan ayam dan stress.
  • Vaksin yang sudah dilarutkan harus habis dalam waktu 30 menit.

5. Vaksinasi Suntik

  • Fungsi injektor harus dicek terlebih dahulu sebelum vaksinasi, juga di sterilkan dengan air panas.
  • Sebelum disuntikkan, suhu vaksin harus disesuaikan dengan suhu lingkungan dengan cara thawing yaitu begitu vaksin keluar dari refrigerator langsung dimasukkan kedalam air biasa agar suhu cepat sesuai suhu lingkungan.
  • Sebelum atau saat melakukan vaksinasi, sesering mungkin botol vaksin dikocok untuk menghindari pengendapan komponen vaksin.

Pada program vaksinasi, vaksin yang pertama diberikan disebut priming vaksin. Pada priming vaksin digunakan live vaksin kemudian dilakukan booster. Pada booster bisa digunakan live atau killed vaksin.
Prinsip yang harus diperhatikan dalam program vaksinasi ayam petelur/layer

  • Pada ayam petelur, sebelum puncak produksi seharusnya vaksin sudah masuk.
  • Jangan melakukan vaksinasi terhadap penyakit yang tidak/belum ada di farm dan sekitarnya karena kalau dilakukan sama halnya dengan memasukkan penyakit baru.
  • Vaksinasi ND dilakukan sampai akhir produksi.
  • Vaksinasi ILT dilakukan 1 kali di atas umur 6 minggu.
  • Vaksinasi EDS, 1 kali sebelum bertelur dan Pox juga 1 kali.
  • Vaksinasi IB dilakukan sampai umur 50 minggu, karena setelah berumur 50 minggu IB tidak berbahaya.
  • Vaksinasi CORYZA dilakukan pada masa grower, diberikan minimal 2x dengan jarak pemberian 9 minggu; jika kasus di lapangan tinggi, vaksinasi dilakukan 3x yaitu 2x saat grower dan 1x sebelum berproduksi.












Rabu, 08 Maret 2017

KUNCI SUKSES PEMELIHARAAN AYAM BROILER



Keberhasilan pencapaian performans akhir salah satunya dipengaruhi oleh pencapaian performans di minggu pertama.
Oleh karena itu sangatlah penting bagi peternak broiler untuk mencapai bobot badan optimal pada minggu awal. Hal ini memberi dampak positif dalam mengurangi umur panen, meningkatkan tingkat keseragaman ayam, efisiensi FCR dan dalam kondisi tertentu juga mampu meningkatkan hasil olahan daging.
Selain itu, bobot badan umur 7 hari juga berkorelasi langsung terhadap konsumsi pakan selama 1 minggu.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi bobot badan di umur 7 hari. Dengan mengetahui dan mengevaluasi faktor-faktor tersebut maka peternak dapat merancang pelaksanaan yang akan dilakukan yang natinya akan mengarah kepada parameter tersebut secara substansial.

MANAJEMEN SELAMA 7 HARI PERTAMA
Meskipun kualitas DOC baik, dengan manajemen serta nutrisi yang bagus di tingkat pembibit, namun kadang kita menemui kegagalan untuk mencapai bobot badan di minggu pertama. Manajemen selama 7 hari pertama, terutama selama 3 hari pertama adalah kunci dalam pencapaian bobot badan terbaik di minggu pertama.
Manajemen broiler terutama di minggu pertama dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti; deviasi dari kondisi normal selama pengukuran( suhu, kelembaban, tekanan statis dan lain-lain ), kualitas udara ( kadar amonia, kualitas udara yang rendah, dan lain-lain ), perilaku ayam ( terlalu aktif, dll ).

Penelitian yang dilakukan di Universitas Georgia telah menunjukkan bahwa ayam-ayam berumur muda yang kekurangan pemanas selama 45 menit, maka akan kehilangan bobot badan 135 gram pada umur 35 hari. Jika 1 bagian flok mengalami kondisi tersebut maka tingkat keseragaman ( uniformity ) yang dihasilkan akan rendah.
Sebaliknya , pemanas berlebih pada ayam-ayam berumur muda akan menekan laju pertumbuhan dan menurunkan bobot badan umur 7 hari. Dengan perlakuan senada, jika pemanasan berlebih terjadi di satu bagian flok , maka akan dihasilkan tingkat keseragaman yang rendah pula. Kunci manajemen selama 7 hari pertama adalah OBSERVASI dan RESPON terhadap kebutuhan ayam. Faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap bobot umur 7 hari tersebut sangat penting karena mampu menurunkan konsumsi pakan. Berikut ini faktor-faktor utama manajemen yang mempengaruhi pencapaian bobot badan umur 7 hari:

CAHAYA
Ayam bearada dalam kondisi yang lebih baik pada intensitas cahaya minimum 25 lux, tersebar secara merata, sehingga mereka dengan mudah mengakses pakan dan air minum. Beberapa peternak mengatakan, bahwa kondisi terbaik bagi ayam yaitu  pada saat intensitas cahaya selama 1 minggu pertama sebesar 50-60lux.

AIR
Air harus tersedia secara ad libitum dengan kondisi suhu air yang tepat dan kandungan bahan kimia serta kualitas mikrobiologi yang sesuai standart.

PAKAN
Lebih baik memilih menggunakan pakan dalam bentuk crumble selama 1 minggu pertama untuk menstimulasi konsumsi pakan dan pencapaian bobot badan. Kandungan nutrisi yang digunakan harus
berdasarkan rekomendasi dari pembibit. Hindari sistem penghematan uang untuk pemberian pakan di minggu pertama karena pada dasarnya konsumsi pakan di minggu tersebut sangat rendah(140-150 gr/ek). Sedangkan manfaat/keuntungan yang diperoleh lebih besar dibandingkan nilai investasi yang harus dikeluarkan.

KELEMBABAN RELATIF
Pada saat kelembaban relatif terlalu rendah, maka ayam akan mengalami dehidrasi. Hal ini akan mempengaruhi bobot badan umur 7 hari. Sebaliknya, jika kelembaban terlalu tinggi dan suhu tidak sesuai, maka konsumsi pakan dan bobot badan akan terpengaruh. Idealnya kelembaban relatif di pertahankan pada kisaran 60-65%.

SUHU
Manajemen suhu yang tidak sesuai adalah *akar masalah* terhadap bobot badan umur 7 hari yang tidak optimal. Broiler modern sangat sensitif terhadap variasi suhu yang berada di luar kisaran normal. Selama 7 hari pertama sistem termoregulasi ayam belum berkembang baik. Suhu yang terlalu rendah akan menyebabkan ayam menggunakan energi yang tersedia dalam pakan untuk menghangatkan tubuhnya dan bukan untuk pertumbuhan sehingga pencapaian bobot badan umur 7 hari akan terpengaruh.
Suhu lingkungan yang terlalu tinggi  akan menekan atau mengurangi selera makan dan akhirnya mengurangi konsumsi pakan selama 7 hari pertama.
Selama 3 hari pertama suhu harus selalu terjaga (84-86 derajat farenheit) dengan kelembaban 60-65%.
Temperatur ini harus lebih tinggi ketika kelembaban lebih rendah dan sebaliknya, setelah 3 hari pertama suhu secara berangsur-angsur menurun hingga mencapai 78-81 derajat F pada umur 7 hari. 
Cara terbaik menyediakan panas yang dibutuhkan ayam dengan penggunaan brooder(pemanas) dan dikombinasikan dengan sistem ventilasi yang baik.

TEMPAT PAKAN
Banyak peternak yang memberi pakan di atas koran yang biasanya menutupi 25% permukaan sekam di sekitar area brooding. Cara terbaik dalam sistem pemberian pakan yaitu jumlah yang sedikit dengan frekuensi yang sering. Hal tersebut dapat menstimulasi aktivitas dan selera makan ayam.

TEMPAT MINUM
Tinggi tempat minum harus di sesuaikan  setiap hari. Pastikan suhu air minum tepat terutama dalam minggu pertama.

PENGGANTIAN PERALATAN
Harus hati-hati saat mengganti peralatan-peralatan DOC(tempat pakan, tempat minum) dengan tipe peralatan permanen.
Penggantian ini harus dilakukan secara berangsur-angsur, agar ayam terbiasa dengan peralatan yang baru sementara masih menggunakan peralatan yang lama.

VENTILASI
Penerapan sistem ventilasi yang ideal mutlak dilakukan. Apabila kita tidak memiliki sistem yang memadai, maka kita harus terampil dalam manajemen buka-tutup tirai untuk menjaga suhu yang sesuai, menjaga kualitas sekam, mempertahankan kualitas udara dan mengeluarkan gas-gas berbahaya dari dalam kandang.

MANAJEMEN BROILER SECARA UMUM 
Waktu pengamatan perilaku ayam merupakan faktor penting dalam pencapaian hasil terbaik. Bukan hanya dari segi pengamatan, namun tindakan yang diambil saat terjadi deviasi/penyimpangan dari kondisi normal. Pengukuran prosentase jumlah ayam yang telah mengkonsumsi pakan akan membantu kita untuk menilai apakah sistem manajemen sudah berjalan dengan baik. Untuk mengevaluasi hal ini, secara sederhana kita dapat melihat tembolok ayam yang penuh dengan pakan, dalam 8-10 jam setelah sampai di kandang, sekitar 80% ayam dari total populasi memiliki tembolok yang penuh dengan pakan.

NUTRISI
Broiler modern terseleksi untuk menghasilkan jumlah daging yang semakin banyak setiap generasinya.Nutrisi buat broiler harus disusun dengan tepat, persyaratan kandungan nutrisi yang digunakan dalam pakan khususnya  untuk periode starter bukan hanya bertujuan untuk mengetahui biaya produksi pakan, namun juga mengarah kepada jumlah daging ayam yang dihasilkan (kg).
Pastikan bahwa nutrisi pakan disusun dengan benar dan tidak ada defisiensi dalam penambahan bahan-bahan. Kekurangan kandungan garam dalam pakan akan memberikan efek yang sangat besar terhadap tingkat pertumbuhan dan pencapaian hasil keseluruhan.

KESEHATAN
Tidak diragukan lagi bahwa banyak penyakit yang bisa mempengaruhi bobot badan ayam di umur 7 hari. Bakteri salmonella dapat mengkontaminasi telur dan ayam, sehingga dapat menyebabkan masalah kesehatan dan tingkat pertumbuhan yang lambat. Ada beberapa virus yang berimplikasi terhadap outbreak penyakit dan mempengaruhi berat badan serta tingkat keseragaman ayam. Banyak pula vaksin hidup yang digunakan, terutama untuk virus pernafasan yang akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan.
Selain itu, toxin atau kandungan obat yang berada dalam pakan juga bisa mempengaruhi tingkat pertumbuhan broiler selama 1 minggu pertama.

KESIMPULAN:
Bobot badan di minggu pertama sangat penting dan akan menjadi lebih penting lagi di masa yang akan datang karena broiler akan terus mengalami perubahan ke generasi baru. Ini berarti bahwa setiap tahun, 1 minggu pertama pemeliharaan broiler merupakan persentasi terbesar dari total pemeliharaan broiler dalam satu periode.Apa bila penanganan di minggu pertama tidak optimal, maka kemungkinan pencapaian hasil produksi akhir juga tidak optimal.




Minggu, 05 Maret 2017

SOLUSI EFEKTIF MENANGGULANGI CORYZA


Penyakit Coryza pada peternakan ayam di daerah tropis seperti di Indonesia, merupakan salah satu problem yang selalu meningkat kejadianya pada saat memasuki peralihan musim, terutama pada peternakan ayam petelur. Sulitnya pengendalian penyakit Coryza, terutama pada peternakan ayam skala menengah ke bawah, tidak lepas dari masih kurang optimalnya praktek manajemen dan program kesehatan yang diterapkan oleh peternak serta kondisi lingkungan yang kurang memadai.

Lemahnya praktek manajemen yang sering teramati di lapangan dan tidak optimalnya pelaksanaan program kesehatan seperti :
  • Kurang baiknya sistem ventilasi dan sirkulasi udara
  • Tingginya pencemaran amonia dalam kandang
  • Kondisi litter kandang yang lembab
  • Kepadatan ayam yang cukup tinggi dalam kandang
  • Pemakaian antibiotika yang tidak tepat dosis
  • Program vaksinasi yang kurang tepat aplikasinya
Semua ini yang menjadi salah satu faktor pemicu cukup sulitnya pengendalian coryza di lapangan.

Untuk menjaga kesehatan ayam dari gangguan atau ancaman penyakit Coryza, maka upaya terpadu dan komprehensif untuk pengendalian kuman penyebab Coryza meliputi konsep manajemen lingkungan yang memadai, program sanitasi dan desinfeksi untuk menekan populasi dan keganasan kuman penyebab penyakit coryza serta dipadukan pelaksanaanya dengan konsep perlindungan berupa program kesehatan dan vaksinasi.

Faktor pemicu timbulnya penyakit Coryza
Beberapa faktor yang dapat menjadi pemicu dan penyebab timbulnya penyakit Coryza pada peternakan diantaranya:
1. Faktor lingkungan dan sistem perkandangan  
Kandang dengan sistem ventilasi dan sirkulasi udara kurang baik serta suhu dan kelembaban kandang yang kurang memadai, kepadatan ayam yang tinggi dalam kandang, dapat menjadi salah satu pemicu mudahnya ayam terserang penyakit Coryza. Sebagai contoh perkandangan yang kurang mendukung sirkulasi udara diantaranya: jarak antar kandang yang terlalu berdekatan, kandang yang terlalu lebar dan panjang tidak disertai adanya kipas sebagai alat bantu sirkulasi udara dalam kandang.
Sirkulasi udara yang kurang baik dan tingginya kadar amonia, dapat menyebabkan ayam mudah mengalami heat stress, dan amonia yang dihirup oleh ayam dapat mengiritasi dan merusak silia serta mukosa pada saluran pernafasan, dengan demikian ayam akan mudah terinfeksi kuman penyakit yang masuk melalui saluran pernafasan.

2. Faktor sanitasi dan desinfeksi 
Kurang optimalnya sanitasi dan desinfeksi dalam lingkungan kandang, menjadi penyebab meningkatnya keganasan dan tingkat kejadian berbagai jenis infeksius,termasuk juga penyakit Coryza di lapangan. Hampir sebagian besar peternak skala menengah ke bawah sering kali mengabaikan praktek sanitasi dan desinfeksi yang baik sebagai cara yang paling utama untuk mencegah dan pengendalian keganasan berbagai agen penyebab penyakit infeksius di lapangan.
Banyak terjadi di lapangan terutama di peternakan ayam komersial, praktek sanitasi dan desinfeksi yang sangat jauh dari memadai. Seperti adanya kotoran yang masih ditumpuk di pinggir kandang yang sudah dibersihkan, jarangnya penyemprotan desinfektan di dalam kandang dan lokasi sekitar kandang serta pemakaian dsinfektan dengan zat aktif yang tidak pernah diganti. 

3. Faktor penyakit immunosupresi 
Adanya beberapa penyakit tertentu yang dapat merusak sistem immune lokal pada saluran pernafasan dan bersifat immunosupresi, dapat menjadi pemicu timbulnya penyakit Coryza yang brsifat infeksius dengan manifestasi klinis yang lebih parah. Penyakit yang merusak sistem saluran pernafasan seperti SHS, ILT, Aspergilosis serta CRD sendiri juga dapat merusak sistem pertahanan lokal yang ada dalam saluran pernafasan, sehingga dapat juga digolongkan sebagai penyebab penyakit lokal immunosupresi.

Sering kali dapat ditemukan kagagalan terhadap vaksinasi Coryza di peternakan ayam petelur maupun di breeder,karena ayamnya pernah terserang penyakit pernafasan lain yang bersifat immunosupresi, seperti sebelumnya pernah terserang penyakit SHS atau ILT.
Bila peternak tidak melakukan vaksinasi terhadap kedua agen penyakit tersebut, berpengaruh sangat besar terhadap keberhasilan vaksinasi Coryza.






Penyebab dan kejadian Coryza di lapangan

Kuman Haemophilus Paragallinarum dikenal sebagai penyebab penyakit Coryza/snot. Penyakit Coryza yang menyerang ayam dapat bersifat akut maupun kronis. Secara umum penyakit Coryza dikenal menyerang ayam yang berumur cukup dewasa, akan tetapi kenyataan di lapangan kerap kali penyakit Coryza sudah dapat dijumpai pada ayam yang masih muda, yaitu umur 3 minggu baik broiler maupun layer. Kejadian Coryza yang menyerang ayam umur muda sering kali terjadi pada pemeliharaan ayamnya dengan variasi umur beragam, dan kondisi lingkungan kandang yang kurang mendukung seperti: tingginya pecemaran amonia, kepadatan ayam yang tinggi, minimnya sirkulasi udara dan banyaknya debu dalam kandang.
Praktek manajemen lain yang kurang memadai seperti sanitasi dan desinfeksi yang kurang baik, minimnya upaya pencegahan dengan pemberian antibiotika tertentu untuk membunuh dan menekan kuman yang ada dalam tubuh ayam. 
Kasus Coryza tingkat kejadianya mulai mengalami peningkatan pada saat perubahan iklim dari musim kemarau ke musim hujan, dengan tingkat kejadian tertinggi umumnya terjadi pada periode September sampai Desember. Penyakit Coryza walaupun sudah ada vaksin yang dipakai di lapangan, akan tetapi kenyataanya masih cukup sulit pengendalianya. Hal ini terjadi karena faktor-faktor pendukung yang cukup sulit dihindari dan dihilangkan, sehubungan dengan lemahnya praktek manajemen peternakan dan adanya perubahan cuaca yang ekstrim.

Kasus Coryza menyerang ayam mulai umur 3 minggu sampai ayam yang sudah produksi. Pada ayam yang sudah produksi penyakitnya biasanya lebih bandel dan cukup sulit penangananya, belu lagi efek yang ditimbulkanya berupa; penurunan produksi telur sangat signifikan, terutama ayam yang terserang sedang dalam pucak produksi.

Gejala klinis yang dapat diamati bila terserang Coryza; pada tahap awal ayam nampak sering bersin-bersin, mata berair dan radang pada kelopak mata, disertai adanya eksudat serous yang kental dan berwarna bening. Pada keadaan yang berlanjut mulai terlihat adanya kebengkaan pada daerah muka bagian bawah disertai adanya pengerasan dari eksudat yang serous dan kental sebelumnya, dimana eksudat jadi kental dan mengeras, dan yang sangat khas dari Coryza adalah bau eksudat yang dihasilkanya sangat busuk. Pada kondisi yang cukup parah, terdengar suara ngorok halus pada malam hari.

Biasanya infeksi kuman penyebab Coryza menyebabkan kerusakan pada jaringan saluran pernafasan bagian atas, dimana sering dapat diamati pada saluran pernafasan bagian atas berupa peradangan kataralis pada membrana cavum nasi dan sinus nasalis dan sinus infraorbitalis.
Paling sering juga ditemukan peradangan pada kelopak mata yang bersifat kataralis dan oedema subcutan pada daerah muka bagian bawah dan pial.
Pada Coryza jarang ditemukan adanya peradangan pada paru-paru maupun kantong hawa, terkecuali kejadianya diperparah oleh infeksi sekunder oleh CRD atau kolibasilosis.

Penanggulanganya di lapangan

1. Pengobatan
Pengobatan dengan memberi berbagai jenis antibiotika sudah cukup banyak dilakukan oleh peternak, tetapi sedikit sekali yang memberikan kesembuhan secara tuntas. Ayam setelah diberi pengobatan selama 4-5 hari nampak sembuh, akan tetapi setelah beberapa hari atau beberapa minggu pengobatan dihentikan, kejadian Coryza akan kambuh lagi. Hal ini dapat terjadi oleh karena efektifitas antibiotika yang digunakan membunuh kuman kurang optimal. Pada ayam-ayam yang nampak sembuh dimana kuman masih ada di dalam tubuhnya, akan berperan sebagai " carrier" terhadap ayam lainya. Pada ayam yang nampak parah kebengkaanya pada muka dan kurang juga nafsu minumnya, sebakiknya pengobatanya diinjeksi.

2. Pencegahan
Pencegahan yang paling baik dilakukan adalah dengan cara melakukan perbaikan praktek manajemen pemeliharaan ayam diantaranya:

  1. Memperbaiki kondisi lingkungan kandang dan menjaga sirkulasi udara dalam kandang.
  2. Menjaga kepadatan ayam dalam kandang.
  3. Meminimalkan akumulasi amonia dalam kandang.
  4. Menjaga litter jangan sampai basah/terlalu lembab.
  5. Hindari pemeliharaan ayam dengan umur beragam.
  6. Lakukan biosekuriti yang ketat