Trik-puncak-produksi-tinggi

Minggu, 30 April 2017

ATASI SNOT DENGAN DAUN BINAHONG

Sebuah inovasi telah  dilakukan oleh peternak ayam potong, karena selalu kuwalahan dan pusing tujuh keliling apabila datang serangan penyakit snot atau coryza. Walaupun ayam tumbuh dengan baik dan cepat, tentunya memberikan harapan besar dalam waktu panen. Tetapi semua itu akan menjadi buyar jika ayamnya terkena serangan penyakit yang namanya snot atau pilek menular. Penyakit ini sangat menjengkelkan dan menghantui para peternak ayam potong. 

Berbagai upaya telah dilakukan tanpa mengenal lelah dan juga tidak mengenal putus asa dalam rangka menangkal datangnya penyakit itu dan upaya melakukan pengobatan yang bisa meraih hasil terbaik. Meski berbagai merk obat kimiawi telah dicoba dan hasilnya memang ada, namun biayanya mahal.

Akhirnya ada salah satu peternak yang mencoba pengobatan snot atau coryza dengan menggunakan tanaman herbal yaitu daun binahong. Apakah daun binahong itu?, binahong adalah jenis tanaman semak yang banyak terdapat di China. Menurut informasi kandungan utama tanaman itu didominasi oleh vitamin K, dan beberapa zat yang befungsi menyempitkan pembuluh darah kapiler dan percepatan pertumbuhan sel somatik. Tanaman herbal ini terutama daunya mampu mempercepat kesembuhan luka pada luka bekas operasi dan luka lain-lain. Selain itu dapat menyembuhkan penderita ambeien.

Cara bikin ramuan herbal daun binahong untuk obat coryza atau snot 

Untuk ayam sekitar 1.000 ekor dibutuhkan daun binahong sebanyak 0,25kg (kering), direbus dengan air kira-kira 5 liter selama 30-40 menit. Didiamkan sampai suam-suam kuku lalu dicampur dengan 5 liter air matang yang sudah dingin lalu diaduk sampai homogen dan siap diberikan ke ayam. 

Sebelumnya ayam dipuasakan kira-kira 2 jam agar kebagian rata setiap ekornya, diberikan selama 3 hari berturut-turut. Menurut pengalaman salah seorang peternak dalam waktu 3 - 4 hari setelah pemberian obat herbal ini sudah menunjukkan tanda-tanda perbaikan untuk kesembuhan.

Selamat mencoba, semoga berhasil.....

 

Selasa, 25 April 2017

MEMBUAT BIOGAS DARI KOTORAN AYAM

BIOGAS adalah gas yang berasal dari makhluk hidup, yaitu hewan dan tanaman. Biogas diproduksi oleh bakteri dari bahan organik di dalam kondisi hampa udara (anaerobik proses). Proses ini berlangsung selama pengolahan atau fermentasi. Gas tersebut sebagian besar berupa metan dengan rumusan molekul CH4 dan karbondioksida dengan molekul CO2.

    Campuran gas tersebut bersifat mudah terbakar jika kandungan metan lebih dari 50%. Biogas yang berasal dari kotoran ternak berisi kira-kira 60% metan. Potensi produksi gas dari suatu jenis bahan sesungguhnya cukup tinggi jika kadar bahan organiknya juga tinggi dan tingkat rasio C/N 20:1 sampai 40:1.

    Kecepatan produksi gas selanjutnya tergantung dari kondisi fisik bahan dan temperatur. Bahan kering dan berserabut lebih lama jika dibandingkan dengan bahan yang halus serta basah. Temperatur optimal pada suhu 35 derajad celsius, berkisar antara 32-37 derajad celsius. Selain itu juga tergantung dari jenis bakterinya. Kelompok bakteri yang berbeda bertugas untuk kehidupan fermentasi dalam sebuah ekosistem. Setiap jenis bakteri tergantung dengan jenis lainya. Jangka fermentasi menjadi singkat jika populasi bakteri benar-benar seimbang.

    Kadar kering (total solid=TS) lapisan yang tidak terolah, berkisar antara 7-11%. Hasil ini bisa dicapai jika kotoran padat dicampur air atau urine dengan volume yang seimbang. Proses digester yang sehat menunjukkan adanya pH 7.0 (taraf netral dari bahan).

    Bila bakteri yang menghasilkan metan telah tersedia dalam bahan, misal dari kotoran ruminansia, produksi biogas dimulai dalam waktu 3-5 hari. Pada lahan pertanian digester diisi perlahan-lahan, sementara itu penggunaanya setelah bangunan penuh terisi.

Pembuatan biogas

    1. Pembuatan biodigester 
Biodigester sering disebut bangunan biogas, yaitu sebuah tabung tertutup tempat limbah organik difermentasi, sehingga menghasilkan gas bio sebagai sumber energi disertai bahan penyubur dari limbah organik. 
Ada 3 jenis digester: Digester permanen (Fixed Dome Digester); Digester terapung (Floating Dome Digester); Digester ditutup plastik (Plastic Covered Ditch).

    2. Penempatan biodigester  
Biodigester ditempatkan dengan jarak 10 meter dari bangunan rumah dan 15 meter dari sumber air. Hal ini dilakukan berdasarkan pertimbangan keamanan. Jangan terlalu jauh karena akan memerlukan selang yang panjang. Selang yang melintasi jalan sebaiknya ditanam agar tidak mudah bocor. 
Letak biogas juga mempertimbangkan suhu optimal antara 32-37 derajad celsius. Untuk daerah panas, digester sebaiknya ditempatkan di tempat teduh, naungan pohon atau bangunan sederhana sebagai pelindung. Sedangkan untuk daerah dingin, tempatkan langsung di bawah sinar matahari sehingga terjamin suhunya. Selain itu juga sebaiknya digester ditanam dalam tanah ditutup tanah dan lapisan jerami untuk memelihara suhu.

    3. Pembuatan campuran pembangkit (starter)
Kotoran ayam tidak mengandung bakteri fermentasi seperti halnya kotoran sapi, sehingga perlu dibuatkan campuran pembangkit fermentasi dengan cara:
Campurkan 2 kg kotoran dengan 2 lt air; Aduk secara merata; tuang campuran tersebut pada jerigen  ukuran 4 lt atau lebih atau dengan botol besar asal tidak ditutup. Atur suhu pembangkit, guncang-guncangkan 3-4 kali dalam seminggu untuk mengaduk isinya; simpan selama 2 bulan, sehingga siap pakai.

    4. Pengoperasian digester   
Siapkan 3 ember limbah dan 3 ember air diaduk secara sempurna dalam drum besar. Masukkan lagi masing-masing 3 ember air dan limbah  sesuai kapasitas drum besar, aduk lagi. Tambahkan dan aduk campuran pembangkit dengan bahan yang ada pada drum besar. Tempatkan drum kecil pada drum besar dengan posisi lubang selang ada di atas, tekan hingga menyentuh dasar drum besar.
Tutup keran dalam keadaan ruang drum kecil penuh terisi oleh campuran bahan biogas, yang penting tidak ada udaranya lagi. Tunggu hingga gas terbentuk dalam drum kecil. Produksi gas terbentuk dalam waktu 3 minggu, bahkan dapat 1 bulan. Kotoran dari ternak sapi dapat lebih cepat antara 4 hari - 1 minggu.
Selama 8 minggu setengah dari gas diproduksi dalam 2-3 minggu pertama dan sisanya dalam 5-6 minggu terakhir. Jika pada akhir minggu dari waktu di atas tidak banyak gas yang diproduksi, maka unit itu harus dikosongkan dan mulailah dari awal. Bila ada masalah untuk mengawali produksi gas (misal udara terlalu dingin), maka perlu ditambah 20% kotoran pemacu yang berasal dari digester yang telah berfungsi kemudian diaduk pada saat pengisian pertama.

    Perawatan biodigester  
Jika suhu lingkungan <15 derajad celsius, maka suhu campuran limbah dalam unit biogas harus tetap dipelihara dengan cara menanam unit biogas dalam tanah. Cara lain dengan menimbuni drum unit dengan jerami atau tongkol jagung. Untuk memelihara panas juga dapat menambahkan satu bagian kotoran ayam dengan 3 bagian kotoran ruminansia (sapi).
Kemungkinan drum mengalami kebocoran, hal ini dapat dideteksi dengan menggunakan air sabun, oleskan pada tempat yang dicurigai, jika terbentuk gelembung maka bocornya di situ. Jika ada bocoran maka perlu ditambal dengan menggunakan bahan tambal yang sesuai apakah logam atau plastik.

    Pemanfaatan biogas  
Gas yang pertama kali dihasilkan merupakan campuran biogas dengan udara, sehingga dapat meledak jika kena api. Untuk itu jauhkan dan jangan dibakar atau dimanfaatkan untuk memasak. Buang gas bersama udara sampai habis, benamkan kembali drum kecil hingga dasar bak. Gas yang dihasilkan kemudian merupakan biogas yang diharap, dapat dimanfaatkan.
Biogas dari unit tersebut dapat dimanfaatkan untuk memasak; sambungkan ujung selang dengan kompor mengatur udara secara teliti. Jika udara kurang, maka akan menyala kuning; jika udara terlalu banyak, maka api akan mati; bila udara cukup, maka nyala berwarna biru, panas yang dihasilkan optimal.  

    Aliran udara sering terganggu oleh jelaga sehingga nyalanya kuning. Adanya air dalam saluran gas juga dapat menghambat aliran gas, sehingga nyala tidak tetap atau nyalanya lemah. Selain produk berupa biogas, digester juga menghasilkan pupuk yaitu bahan cair dan padat yang ada di dalam tangki/drum; pupuknya bermutu tinggi.


Sumber: Majalah PI  

Minggu, 23 April 2017

MEREDAM BAU KOTORAN AYAM DENGAN ZEOLIT

ZEOLIT adalah nama umum untuk batuan khusus yang berasal dari bahan galian, atau limbah gunung berapi. Zeolit ini berbeda-beda menurut kandunganya dan itu identik dengan tempat di mana dia digali. Di beberapa tempat, zeolit dimanfaatkan sebagai aditif pakan (feed additive) yang dianggap mampu mengurangi polusi (amonia) dan bau tidak enak dari peternakan antara lain pada peternakan babi dan ayam.
Zeolit mampu berperan sebagai penukar kation (cathion exchange) serta dengan struktur kristal yang mempunyai banyak rongga kecil, zeolit mampu menyimpan air dan kation. Kapasitas tukar kation (cathion exchange capacity) berbeda-beda untuk setiap "keluarga" zeolit. Dengan struktur seperti itu dan cairan yang ada di dalam pori-pori zeolit mudah lepas, maka zeolit mempunyai sifat menyaring sehingga dijuluki sebagai " ayakan molekuler " dan banyak digunakan untuk membersihkan air industri dan air permukaan.

Zeolit dapat menyerap zat hara dan vitamin kemudian dibawa ke saluran pencernaan untuk selanjutnya bereaksi dengan enzim-enzim pencernaan.
Pengeluaran zat-zat hara dan vitamin itu mengalami keseimbangan secara kimiawi sehingga ransum yang terpakai lebih efisien dan penggunaan ransum lebih ekonomis. Untuk sifat ini zeolit bertindak sebagai carrier (pembawa zat-zat makanan) dan kelak zat-zat makanan tersebut dilepaskan secara teratur sesuai kebutuhan yang ada sehingga dicapai keseimbangan kimiawi yang menguntungkan penampilan ternak.

Zeolit dan polusi amonia 

Karena sifatnya yang mampu sebagai penukar kation, memungkinkan zeolit untuk melakukan peningkatan secara khemis (chemical binding) terhadap amonia selama proses pencernaan sehingga akan mereduksi level dari gas merugikan (noxious gas) di dalam sistem pencernaan dan di dalam kotoran (manure).

Seperti apa aksi zeolit pada diet monogastrik dalam mengurangi polusi amonia?. Beberapa peneliti memerinci sebagai berikut :
Mengikat N dari struktur amonia dan ion amonium.
Mereduksi level dari senyawa merugikan karena aktifitas mikrobial di dalam usus halus yang merugikan ternak inang.
Kemungkinan mampu menstimulir perut dan usus halus untuk meningkatkan produksi antibodi yang secara tidak langsung menghambat datangnya penyakit.

Zeolit juga "mendongkrak" penampilan. 

Pemanfaatan zeolit sebagai aditif pakan bukan semata-mata untuk mereduksi emisi amonia tetapi juga dapat "mendongkrak" (meningkatkan) produksi. 
Penelitian yang mencoba mengetahui pengaruh pemberian zeolit sebagai aditif pakan bukan hanya dilakukan di luar negeri. Sebuah penelitian yang dilakukan di Fakultas Peternakan Universitas Udayana mencoba mengetahui pengaruh pemberian zeolit terhadap performa broiler. Didapatkan bahwa penambahan 3% zeolit ke dalam pakan, secara nyata (signifikan) mampu meningkatkan berat badan akhir,

Secara fisik, zeolit baik dimanfaatkan secara langsung ke dalam pakan sebagai free flow agent, dan juga sebagai material pengikat (binder) dalam pembuatan pellet. 
Dalam pembuatan pellet dengan sistem uap (steam pulleting) penambahan zeolit (clinoptilolite) membantu mempercepat pembuatan pellet dan meningkatkan beberapa aspek kualitas dari pellet.

Sumber : Majalah POULTRY INDONESIA 







































Sabtu, 22 April 2017

CARA MENCEGAH DAN MENGOBATI BAKTERI E. COLI

    Penyakit ini menyerang pada semua umur, tetapi pada anak ayam lebih sensitif dibanding dengan ayam dewasa. sampai saat ini walupun berbagai upaya pengobatan telah dilakukan, tetapi kasus infeksi E.coli pada ayam baik ayam pedaging maupun ayam petelur masih banyak terjadi.

    Kasus penyakit yang disebabkan bakteri E.coli biasanya merupakan infeksi yang terlokalisir pada organ tertentu atau atau bersifat septicaemia yang dapat menyerang sebagian atau keseluruhan organ tubuh seperti radang kantung udara yang sering bersama infeksi mycoplasma yang disebut CRD (Chronic Respiratory Disease), radang persendian (osteomyelitis), radang di bawah kulit (selulitis), radang tali pusat (omphalitis), radang selaput otak (meningitis), radang bola mata (phanopthalmitis) dan kantung kuning telur (yolk sac infection).

    septicaemia yang akut biasanya terjadi pada ayam dara atau dewasa, penyakitnya menyerupai fowl typhoid dan fowl cholera.
Dalam kondisi tubuh masih kelihatan sehat, kuman E.coli memasuki pembuluh darah melalui jaringan organ yang terluka dari usus atau saluran pernafasan. Lesi yang tipikal yaitu hati berwarna hijau, kadang dijumpai banyak bintik-bintik kecil pucat pada permukaan hati, dan linfa membesar. Jika kondisi berlanjut, karena kuman menyerang lapisan endotel pembuluh darah, maka terjadi peningkatan cairan tubuh yang berakumulasi pada rongga perut. Jika ayamnya bertahan hidup biasanya komplikasi dengan penyakit pernafasan seperti Mycoplasma gallisepticum (MG), klinis terjadi lapisan fibrin yang purulen pada permukaan jantung, hati, peritoneum dan kantung membran udara. Pada kondisi seperti ini kuman E.coli dapat diisolasi dari darah, hati atau jaringan visera.

Pencegahan terhadap infeksi E.coli

    Pencegahan penyakit yang disebabkan bakteri E.coli pada ternak ayam dapat dilakukan dengan bermacam-macan cara, antara lain :

Dengan mengumpulkan telur dari kandang lebih sering agar tidak terkontaminasi kotoran ayam.
Membersihkan telur yang telah dikumpulkan tiap 2-3 hari dengan desinfektan atau fumigasi, apabila ada telur yang pecah segera disingkirkan.
Perendaman telur berembrio umur 1 hari dengan antibiotika.
Sanitasi inkubator dan mesin tetas(hatcher) dilakukan secara berkala, ventilasi inkubator dan hatcher harus tetap terjaga baik.
Anak ayam yang terinfeksi E.coli harus diafkir.
Program pencegahan anak ayam umur di bawah 1 minggu dengan antibiotik perlu dilakukan.
Kualitas litter harus tetap terjaga kering dengan cara pergantian pada saat tertentu agar tidak bau amonia.
Ventilasi dan jarak perkandangan harus dijaga sesuai dengan aturan.
Biosekuriti harus dilakukan  dan diterapkan sesuai prosedur.

Pengobatan

    Kuman E.coli kebanyakan  sensitif/peka terhadap beberapa antibiotika seperti kelompok aminoglukosida, polipeptida, tetrasiklin, sulfonamida dan quinolon. Sekalipun demikian, jika setelah diobati tidak terjadi perubahan, maka perlu uji sensitivitas, karena telah banyak dilaporkan bahwa banyak serotipe E.coli yang sudah resisten terhadap beberapa jenis antibiotika.

Jumat, 21 April 2017

PENYEBAB KOTORAN AYAM BASAH

    KOTORAN basah yang timbul pada ayam petelur disebabkan oleh dua faktor yaitu nutrisi dan agen infeksi.

    Konsumsi garam potassium, magnesium, sulfat, sodium, dan chloridnya terlalu tinggi (melalui air maupun pakan) dapat menyebabkan kotoran basah. Oleh sebab itu, harap dicek keberadaan garam tersebut -terutama untuk kandungan sodium dan chlorid di atas 3000 mg/-. Hal ini dimungkinkan akibat kesalahan mencampur, walaupun kondisi ini sangat jarang terjadi, sehingga garam yang diberikan berlebihan. 

    Yang paling sering adalah karena air yang digunakan mengandung magnesium dan sulfat dalam jumlah yang berlebihan, oleh sebab itu perlu dilakukan pengecekan air secara berkala terhadap 2 garam tersebut. Selain itu hindarkan penggunaan pakan yang sudah tengik (kualitas lemak rendah), atau bahan baku pakan yang mengandung wheat, barley, dan gaplek.

    Beberapa penyakit juga bisa menyebabkan kotoran basah, karena agen penyakit yang merusak organ pencernaan biasanya akan menampakkan gejala ini. Selain itu, ketika ayam sakit nafsu makan turun dan terus-menerus minum, kondisi ini akan meningkatkan kandungan air pada feses.

    Untuk mengatasi masalah ini, sebaiknya diarahkan untuk menemukan penyebabnya terlebih dulu. Kalau penyebabnya karena kandungan air yang mengandung terlalu banyak garam, maka langkah yang diambil adalah memperbaiki kualitas sumber air. Sedangkan untuk mengatasi penggunaan bahan baku -penyebab kotoran basah, dapat digunakan enzim yang sesuai dengan bahan baku tersebut. Kalau penyebabnya adalah penyakit, maka upaya yang harus dilakukan adalah melakukan pengobatan terhadap penyakit tersebut. Untuk itu, silahkan konsultasi dengan dokter hewan.

Kamis, 20 April 2017

PENYEBAB KULIT TELUR TIPIS




Kalsium memainkan peranan yang penting dalam berbagai fungsi metabolisme, salah satunya adalah pembentukan kerabang.

    Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas kulit telur yang dihasilkan oleh induk ayam. Selain umur, strain genetik ayam, nutrisi dan lingkungan juga mempengaruhi. Strain genetik ayam secara langsung berpengaruh pada ukuran telur dan kualitas kulit telur. Induk petelur mempunyai keterbatasan fisiologis terhadap penyerapan kalsium tanpa melihat apakah telur yang diproduksi besar atau sedang. Semakin banyak dan besar telur yang dihasilkan, semakin banyak dibutuhkan kalsium. Setiap induk mempunyai keterbatasan yang berbeda-beda dalam menyerap kalsium karena selain untuk tulang, kulit telur juga sangat memerlukan mineral ini.

    Nutrisi utama yang dibutuhkan untuk pembentukan kerabang telur adalah kalsium, diikuti dengan beberapa bahan lain seperti vitamin D, pospor dan seng.

Kalsium

    Kalsium adalah mineral terbanyak yang ditemukan dalam tubuh hewan dan sekitar 99% dari jumlah tersebut ditemukan di tulang. Kalsium memainkan peranan yang penting dalam berbagai fungsi metabolisme. Beberapa fungsi penting tersebut antara lain:

  1. Penting dalam pembentukan tulang.
  2. Dibutuhkan untuk efisiensi pakan.
  3. Penting untuk pembentukan kulit telur.
  4. Diperlukan dalam pembekuan darah normal.
  5. Konstraksi otot, jantung dan otot polos lainya.
  6. Transmisi simpul syaraf.
  7. Mengatur denyut jantung.
  8. Aktivator atau stabilisator dari enzim.
  9. Terlibat dalam sekresi beberapa hormon.

    Kalsium diserap dari usus melalui mekanisme transpor aktif dengan bantuan vitamin D. Sebagaimana diketahui bahwa fungsi vitamin D dalam penyerapan kalsium melalui ikatan yang disebut " calcium binding protein " atau " calbindin ". Kalsium juga diserap dalam jumlah kecil melalui difusi ion pasif. 

    Penelitian menunjukkan bahwa penyerapan kalsium pada hewan yang umurnya semakin tua akan semakin menurun.

Penyebab utama

    Kalsium adalah mineral utama yang terdapat dalam kulit telur. Apabila dalam pakan tidak cukup tersedia, induk ayam tidak memiliki bahan bahan baku yang diperlukan untuk membuat kerabang telur tersebut. Dari penelitian diketahui bahwa pakan yang kurang kandungan kalsium, pospor dan vitamin D3-nya akan menimbulkan masalah kerabang telur tipis. Kekurangan kalsium juga sering terlihat saat cuaca panas. Stress karena panas dapat berperan sebagai titik kritis dalam kualitas kerabang. Ayam yang megap-megap atau (panting) karena kepanasan, menyebabkan metabolisme acidosis dan waktu untuk kalsifikasi kerabang telur lebih pendek. Hal ini diperparah dengan kehilangan cairan tubuh beserta elektrolitnya sehingga kalsium yang ada  dalam tubuh ayam sangat sedikit.

    Oleh karena itu asupan kalsium terutama untuk ayam yang sedang bertelur sangatlah penting. Selain itu penambahan kalsium dalam ransum ayam dua minggu sebelum bertelur juga penting, karena pada saat itu pullet sedang membangun jaringan tulang untuk kelak membuat kerabang telur. Defisiensi kalsium dapat menimbulkan masalah pembentukan tulang, penurunan produksi telur dan kerabang telur tipis. Pemberian vitamin dan elektrolit saat cuaca panas akan sangat membantu ayam dalam menyeimbangkan kembali metabolismenya seperti semula.

    Sementara untuk konsumsi pakan ayam juga dipengaruhi oleh suhu, umur, dan ketersediaan air. Untuk itu perlu diperhatikan dari awal pemeliharaan ayam untuk senantiasa memberikan nutrisi yang baik, vitamin dan mineral serta suasana yang nyaman bagi ayam agar dapat berproduksi dengan baik.


Sumber : majalah PI     

Rabu, 19 April 2017

YANG HARUS DIPERHATIKAN PETERNAK BIBIT BROILER

PERFORMA bibit broiler sangat dipengaruhi oleh tingkah lakunya. Perlakuan yang tidak tepat dapat berpengaruh buruk. Harus diperhatikan misalnya , ayam tidak bisa masuk sarang bertelur, kawin dan makan dalam waktu yang bersamaan, tanpa memandang potensi genetik ayam. Dengan demikian untuk memperoleh performa yang optimal, seorang pembibit harus memahami dasar-dasar tingkah laku ayam yang terwujut dalam jadwal harianya.

    Ayam bibit broiler tidak melakukan aktifitasnya selama sehari secara acak. Mereka memiliki jadwal yang meliputi aspek-aspek bertelur dan kawin, dan kita harus memperhatikanya melalui praktek manajemen kita.

Bertelur
    Aktifitas bertelur dimulai sekitar 1 jam setelah cahaya keluar di pagi hari dan sebagian besar telur diproduksi selama 6 jam. Ini berarti bahwa selama 6 jam seluruh ayam harus memiliki akses ke tempat bertelur.

    Seekor bibit broiler seringkali menempati sarang telurnya selama 45 menit untuk bertelur dimana 20-25 menit untuk persiapan bertelur dan 20-25 menit  sisanya untuk menikmati hasilnya. Pada kondisi yang hangat, bisa jadi ayam menempati sarangnya lebih lama .

    Jika kita mempertimbangkan fakta bahwa tidak semua ayam bertelur setiap hari dan tidak semua sarang ditempati sepanjang waktu, kita bisa menghitung sedikitnya 1 jam penggunaan sarang untuk setiap telur yang dihasilkan selama periode 6 jam. Ini berarti pada puncak produksi, diperlukan 1 sarang per 5-6 ekor ayam bibit.

    Masing-masing ayam akan menempati lebar 15 cm di sarang, berarti sekitar 6 ekor ayam per meter sarang. Dan jika setiap tempat dipakai selama 1 jam, maka kita bisa menempatkan 35-40 ekor ayam per meter selama 6 jam periode bertelur. Menempatkan lebih banyak ayam ajan menjadi kontra produktif, karena akan menyulitkan beberapa ayam mencari tempat kosong.

Kawin
    Kawin merupakan saat kunci dari jadwal harian yam bibit, terjadi terutama selama 4 jam terakhir masa terang. Jika kawin terjadi di siang hari , telur yang dihasilkan akan mengganggu perilaku kawin, dan telur yang keluar akan menghalangi semen yang masuk.

    Ayam jantan paling aktif pada saat ini, sehingga kita harus menarik ayam betina ke area mengais pada saat yang sama. Kita juga harus memperhatikan perilaku kawin pejantan untuk memastikan mereka tidak terlalu agresif atau terlalu jinak.

Feeding & drinking
    Dengan 5-7 jam pertama dan 4 jam terakhir dari 16 jam masa terang, maka sisa 5-6 jam untuk makan dan minum.

    Jika kita menyediakan pakan selama waktu bertelur atau waktu kawin, berarti kita meminta ayam untuk memilih antara tetap lapar dan bersarang atau kawin, atau untuk makan dengan resiko ayam bertelur di lantai atau menolak kawin. Dan beberapa ayam akan memilih makan.

    Ayam membutuhkan 2 jam untuk makan, dan 4 jam untuk minum bergantung pada flok  dan sistem pemberian pakan. Artinya, kita harus mulai memberikan pakan dan air 7-8 jam setelah masa terang, untuk menghindari konflik dengan perilaku bertelur dan kawin.

    Keuntungan lain dari pemberian pakan setelah bertelur adalah kalsium di dalam pakan menjadi tersedia saat pembentukan cangkang telur, terutama pada malam hari.

    Namun demikian jika kita memberikan pakan 7-8 jam setelah masa terang, proses pencernaan akan terjadi selama periode paling panas. Ini tidak menjadi masalah di iklim subtropis. Tetapi produksi panas yang bersamaan dengan proses pencernaan bisa menyebabkan masalah pada ayam di iklim panas sehingga untuk memastikan pemberian pakan tidak merusak jadwal bertelur, kita harus menggantinya dengan memberi pakan seawal mungkin.

    Dengan memahami tingkah laku ayam dan memenuhi kebutuhanya, kita menjadi yakin bahwa ayam kita membuat pilihan yang terbaik untuk keuntungan kita.     


Sumber: Majalah PI